Cerpen Is’adur Rofiq (Minggu Pagi No 20 Th 72 Minggu IV Agustus 2019)

Halte yang Tertinggal ilustrasi Minggu Pagiw.jpg
Halte yang Tertinggal ilustrasi Minggu Pagi

Saya ingat betul, habis shalat isya’ atau sebelum tidur, saya selalu menyanyikan lagu diiringi gitar kuno untuk istriku, Arum-yang terbaring sakit keras di ranjang. Tetapi sekarang, saya tidak bisa bernyanyi lagi. Ia sudah pergi ke tempat paling indah.

Semenjak kepergian Arum 7 hari lalu, tiba-tiba saya ingat wasiat yang ia sampaikan 10 menit sebelum Ia menghembuskan napas terakhir.

‘Untuk berbuat baik kepada orang lain, tidak harus memberikan uang. bernyayi dan menghibur tanpa memungut uang dari orang lain adalah suatu kemuliaan, Mas’.

“Lantas bagaimana caranya menuntaskan wasiat tersebut?”

“Dimanakah saya bernyanyi menghibur orang lain?”

“Di pasar?”

“Di pinggir jalan?”

Entah berbagai pertanyaan bergulat di benakku.

Praktis saya akan menjalankan hari-hari kedepan sendirian. Amir anak sulungku sudah kembali ke kota untuk kerja sejak hari ketiga kematian Arum. Rasid anak kedua saya juga balik ke kota sejak hari keempat. Bahkan Kulsum, si bungsu, memilih tidak pulang dari Singapura. Alasannya tidak masuk akal, ‘saya menjadi ketua panitia seminar internasional’.

Saya sangat iri dengan orang-orang seumuran saya di sana. Menghabiskan masa tua dengan tenang. Menggendong cucu dan menemaninya bermain. Mungkin anak-anak muda sekarang malu bekerja di desa. Sehingga saya yang sendirian di rumah tidak dianggap ‘penting’ oleh anak-anakku.

Ah… daripada pikiran kemana-mana, mendingan saya ziarah ke makan Arum. Biarkan saja apa yang dikerjakan anak-anak saya di kota sana. Meskipun saya mati suatu saat, belum tentu mereka pulang.

***

“Ganding, Pak?” Kernet bis kota sambil menjulurkan tangannya.

Saya mengangguk.

Untuk menyambangi kuburan istriku, saya lebih memilih naik bis kota. Semoga bisa bernostalgia atas cinta pertama saya dengan Arum di bis kota 35 tahun yang lalu.

Advertisements