Cerpen Rosni Lim (Analisa, 21 Agustus 2019)

Hari Arwah ilustrasi Alwie - Analisaw.jpg
Hari Arwah ilustrasi Alwie/Analisa

DALAM  pandangan tak kasat mata manusia, dua arwah melayang-layang di jalan raya kemudian berhenti di persimpangan lampu merah, pas di simpang empat yang penuh  hiruk-pikuk kendaraan yang saling ingin mendahului.

“Kenapa wajahmu masam?” tanya arwah 1.

“Aku sedang kesal!” jawab arwah 2. Dilayangkannya tubuhnya mendekati seorang laki-laki berkemeja biru tapi kancing atasnya terbuka sehingga nampak dadanya penuh tato. Laki-laki itu berjalan dengan gaya sok petantang-petenteng seolah tak takut apa pun.

“Sok preman kali, kau!” arwah 2 itu mengumpat ke laki-laki bertato di dada. “Mampus!” lalu disorongkannya tangannya ke bahu laki-laki itu. Laki-laki itu merasa seperti ada yang mendorongnya dari belakang sehingga tubuhnya sempoyonan ke depan.

“Tiiin…! Tiiin…!” suara klakson mobil angkot langsung menggema di jalan. Untung saja supir angkot itu sigap mengerem mobilnya sehingga laki-laki sok preman yang nyaris tertabrak itu selamat.

“Hei, apa salahnya dia sama kamu?” tanya arwah 1 pada temannya.

“Nggak, aku cuma lagi kesal.”

“Kesal? Kesal karena apa?” tanya arwah 1.

“Lihatlah, seminggu lagi kita hari raya. Seminggu lagi kita merayakan hari yang kita tunggu-tunggu selama setahun. Hari di mana kita bisa makan banyak dan enak, banyak manusia yang menyiapkan sesajian di tempat-tempat tertentu,” jawab arwah 2.

“Iya, lalu?” tanya arwah 1 tak mengerti.

“Tapi aku mendengar percakapan antara 2 manusia di kedai kopi kemarin pagi.”

“Oh ya? Apa yang mereka bicarakan?”

“Manusia 1 bilang, seminggu lagi chit gwee pua. Maksudnya bersiap-siap merayakan hari raya arwah. Terus, yang buat aku marah, manusia 2 menjawab, sederhanakan saja perayaannya. Ekonomi sedang sulit. Merayakan dengan mewah hanya akan membuang-buang duit. Toh belum tentu arwah yang disembahyangi hadir menerima perayaan. Jadi makanan itu dimasak sebenarnya buat dimakan manusia, bukan buat dimakan arwah.”

“Lho? Ada juga manusia yang begitu?” tercekat arwah 1.

“Itulah, makanya aku geram!” jawab arwah 2. “Walaupun kedua manusia itu bukan keturunanku, bukan anak cucuku, tapi perkataan mereka itu lama-lama akan menyudutkan kita. Sampai manusia-manusianya kelak akan malas merayakan hari raya kita.”

Advertisements