Cerpen Nur Inayah Syar (Rakyat Sultra, 19 Agustus 2019)

Nenek Pakande ilustrasi Istimewa.jpg
Nenek Pakande ilustrasi Istimewa 

Hari beranjak gelap ketika seorang wanita yang sudah lanjut usia, menggiring kisah dongengnya mendekati akhir cerita. Anak-anak polos berwajah kecil itu mendengar dan nyaris tak berkedip. Meskipun cerita itu telah mereka dengar dengan berbagai versi berbeda, mendengarkannya sekali lagi tetap saja membuat bulu kuduk merinding.

Lambat laun rambutnya semakin memutih, kulit wajahnya semakin berkerut dan ia pun tampak semakin menua. Ilmu hitam itu merenggut tanda-tanda kehidupan dan kebaikan dalam dirinya.

Wanita itu membuat janji, bahwa ia tak akan membiarkan negeri itu memiliki banyak keturunan dan hidup dengan tenang. Jika hari sudah beranjak sore hingga tengah malam, siluman wanita itu akan menculik bayi-bayi dan anak-anak dari desa untuk menyempurnakan ilmunya. Santapan saging manusia yang masih sangat muda itu membuatnya semakin sakti. Dan sampai sekarang ia terus hidup dan menurunkan kekuatan dan dendamnya pada generasi penerusnya. Orang-orang menyebut wanita itu ‘Nenek Pakande’.

Begitulah cerita itu ditutup. Meninggalkan bekas dalam kepala-kepala mereka dan ketakutan yang mengakar sampai dewasa.

***

Rawe mempercepat langkah saat melewati kumpulan pria yang menatapnya aneh dari tempat mereka. Rawe tahu, keempat putra kembar bangsawan bertubuh kekar itu tak menyukainya dan juga bapaknya. Bahkan boleh dikatakan, seluruh penduduk desa tak ada yang menyukai mereka berdua.

Wanita berusia akhir dua puluhan itu menduga bahwa penduduk desa merasa iri dengan keberhasilan Bapaknya sebagai petani kacang tanah dan pedagang sarung tenun di usianya yang sudah senja. Itu adalah anggapan otak kecilnya selama bertahun-tahun. Lambat laun, Rawe paham dengan sendirinya. Penduduk desa mungkin pernah iri pada mereka. Iri pada baju-baju dan sarung-sarung sutera yang dikenakannya. Tetapi bukan itu alasan mereka membencinya dan Bapak.

Para penduduk desa mencurigai mereka memelihara siluman. Jenis siluman apa yang mereka maksud, Rawe tak pernah tahu. Rawe tak habis pikir, bagaimana bisa mereka berpikiran begitu picik dan menduga bahwa Bapaknya yang pendiam dan baik hati itu bisa memelihara makhluk semcam itu.

Advertisements