Cerpen Yetti A. KA (Kompas, 18 Agustus 2019)

Tentang Kita dan Laut ilustrasi Joko Toying - Kompasw.jpg
Tentang Kita dan Laut ilustrasi Joko Toying/Kompas 

Kau bilang sangat menyukai laut. Kau memang tidak mengatakannya langsung kepadaku sebagaimana juga hal-hal lainnva. Namun, dari balik dinding kamar aku pernah mendengar kau bicara tentang itu; tentang keinginanmu berdiri di depan laut dan kau menyaksikan ikan-ikan berlompatan.

Lalu, setelah itu, sambil terlentang di tempat tidur aku segera membuat sebuah adegan dalam kepalaku: kau berdiri menghadap laut, ikan-ikan keluar dan melakukan atraksi seperti sedang tampil dalam sebuah pertunjukan sirkus, mereka bergerak ke sana kemari, menari, berjumpalitan, lalu sebelum bergerak ke atas dan ke atas lagi dalam sekejap mereka mengubah diri menjadi serombongan burung, beberapa ekor terjatuh dan mati, beberapa yang lain terus membubung tinggi, menjadi titik-titik hitam, menjadi tiada.

Aku terisak-isak, karena ikan-ikan yang menjadi tiada itu. Kubayangkan kau masih berdiri sendirian menghadap laut yang telah kosong (karena bagimu apalah arti laut tanpa ikan-ikan), dan akulah yang membuat itu semua terjadi.

Adakah kau tahu itu? Sudah pasti tidak. Bukan salahmu yang selama 25 tahun terlalu sibuk mengurus anak lelaki bernama M itu (M adalah Mars, aku tidak mengerti kenapa kau menamainya dengan salah satu nama planet yang sangat kusukai, yang sejak lama diam-diam kuinginkan menjadi namaku), melainkan aku saja yang telah menyembunyikannya dengan terlalu baik dan rapi apa pun tentang pikiranku. Pokoknya kau sama sekali tidak salah. Aku tak mungkin membuatmu merasa begitu, bisa-bisa aku lebih banyak lagi menangis karena kesalahanku jadi berlipat-lipat kepadamu. Aku tak ingin menambah luka di kulit pohonmu. Di sana sudah terlalu banyak bekas torehan yang menebal dan sebetulnya aku agak membencinya, tapi satu kali kau bilang, “Jangan membenciku karena ini.”

Tentu aku tak mungkin membencimu. Namun, menurutmu, membenci sesuatu yang melukaimu juga berarti sama saja dengan membencimu—kalau mau sedikit berterus terang sebenarnya kau ingin agar aku berhenti membenci segala sesuatu yang menyakitimu, yang membuatmu menjadi satu-satunya pohon bagi anak lelaki bernama M dan aku. Aku tak mengerti caramu membuat kesimpulan itu. Apa kau memang sekejam itu terhadapku dan dirimu sendiri setelah apa yang kita terima selama ini? Apa kau sengaja ingin menjatuhkanku hingga aku menjadi kepingan-kepingan kecil di lantai? Sayangnya, kau tahu persis, aku tidak terbuat dari kaca. Sama sepertimu, aku juga memiliki kulit pohon yang ketika dilukai bisa menebal dan di sanalah aku berlindung.

Advertisements