Cerpen Pensil Kajoe (Denpost, 18 Agustus 2019)

Seekor Ular di Dalam Rumah ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Seekor Ular di Dalam Rumah ilustrasi Mustapa/Denpost

ULAR belang itu mendesis di depan pintu rumahku, tampaknya dia kesakitan oleh beberapa luka di tubuhnya. Kedua mata binatang melata itu berkaca-kaca memelas, seperti memohon agar aku merawatnya.

Sebelumnya rumahku kerap didatangi ular-ular kecil. Entah di kamar mandi maupun gudang, aku langsung saja membunuhnya, menyiramkan air mendidih atau menggebuknya dengan gagang sapu hingga kepalanya pecah, kubuang bangkainya ke saluran irigasi di samping rumah.

Suatu hari, di terik siang kulihat seekor ular hijau menggelepar di atas aspal jalanan yang panas. Dia menggeliat-geliat karena kulit perutnya bergesekan dengan aspal yang meleleh. Saat hendak kupukul dengan bilah bambu, tetiba seorang perempuan berteriak

“Jangan kaubunuh ular itu. Pamali. Siapa tahu ular jadi-jadian, kau bisa kena bahaya.”

Perempuan itu ternyata Mbok Siti, perempuan yang sedikit terganggu jiwanya. Namun, kali ini ucapannya memang benar. Aku sendiri pernah mendengar suatu mitos bahwa jangan membunuh ular yang kau temui, meskipun ular itu masuk ke dalam rumahmu. Cukup usir saja dari rumah. Sebab ular-ular yang sering menyambangi rumah-rumah penduduk adalah ular siluman.

Selepas maghrib ular itu mendekat ke arahku. Dia berbisik dengan suara desisnya. Katanya dia baru saja diusir dari rumah orang tua angkatnya. Dia dituduh telah memakan ayam ingkung, menu spesial untuk makan malam.

“Tolong izinkan aku tidur di rumahmu untuk malam ini saja,” ucap Ular itu.

Aku tak segera menjawab. Kulihat tatapan matanya memelas, seolah sedang minta belas kasihan.

“Ayolah, aku mohon biarkan aku bermalam di sini, tubuhku lelah sekali. Apalagi tadi aku kena pukulan bertubi-tubi hingga membuat tulang belulangku patah,” rengeknya sambil bergerak mendekat ke arahku.

“Baiklah, kalau begitu kau boleh bermalam di sini.”

Raut wajah Ular tersebut memang tampak meyakinkan, kalau dia baru saja mendapat perlakuan yang tak mengenakkan. Jadi aku pikir, tak ada salahnya kalau dia kuizinkan tinggal di rumahku.

Advertisements