Cerpen Ferry Fansuri (Kedaulatan Rakyat, 18 Agustus 2019)

Raden Sosro Aji ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Raden Sosro Aji ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

KECELAKAAN itu membuat sang priyayi, Raden Sosro Aji terkapar di rumah sakit. Keturunan murni dari para leluhur dari kerajaan Mataram, nama raden bukan titel jaman kolonial tersemat tapi itu memang nama yang diberikan bapaknya. Dibilang keluarga Raden Sosro Aji terkaya di desa ini, juragan tembakau dan batik turun temurun sejak nenek moyang ditetapkan petugas penarik pajak rakyat jelata oleh kolonial Belanda.

Mereka keluarga priyayi mengaku memiliki darah murni dan tak mau dicampuri yang bukan dari golongannya. Keturunan asli yang harus menikah dengan keturunan priyayi juga, begitu juga keluarga Raden Sosro Aji. Sejak kecil telah dijodohkan dengan keluarga priyayi desa sebelah. Mereka tak mau menikah dengan kalangan rakyat jelata, ini alasan untuk menjaga darah murninya tidak tercampur atau ternoda. Mereka percaya bahwa darah murni mereka mendatangkan berkah dan rejeki jika dilanggar maka kemiskinan akan mendera.

Oleh karena itu Raden Sosro Aji menolak saat dokter melakukan transfusi darah selain dari keluarganya. Ia masih berbaring di kamar rumah sakit dan terus mengerang kesakitan, Raden Sosro Aji banyak mengeluarkan darah dan secepatnya harus ditangani. Dokter rumah sakit kebingungan dan menyuruh suster untuk memanggil keluarganya untuk datang.

Maka tergopoh-gopoh Sulasih datang ke rumah sakit menemui Raden Sosro Aji yang tergeletak di ruang VIP. Matanya berlinang melihat suaminya tergeletak lemas.

“Kangmas, kenapa ini bisa terjadi?”

Raden Sosro Aji terlihat siuman dan melihat Sulasih.

“Ini gara-gara anjing sialan itu, muncul tiba-tiba saat aku belok dan banting setir?”

Di saat parah seperti itu, Raden Sosro Aji tetap bisa  mengumpat dan memang kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Sama halnya jika ia memaki buruh di pabrik kain batiknya, serampangan dan menyakitkan hati. Banyak buruh pekerjanya mengutuk ia akan tertimpa sial dan merasakan akibatnya. Akhirnya itu terjadi.

Raden Sosro Aji harus segera mendapatkan transfusi darah jika tidak nyawanya tak tertolong lagi?

Suara dokter itu masih terngiang-ngiang di telinga Sulasih yang berusaha membujuk suaminya agar mau melakukan transfusi darah secepatnya.

Advertisements