Cerpen Mochtar Pabottingi (Republika, 18 Agustus 2019)

Rabah & Mirakel Burung-Burung ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Rabah & Mirakel Burung-Burung ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Sebentang negeri purbawi

Dihaki abadi. Lungkrah. Dengan harga-harga mati

Tidakkah Adam Yang Tanah berhak atas kehidupan di mana pun terbuka?

Dan Abraham terpanggil meninggalkan Haran menuju Kanaan. Untuk menjadi Bapak Bagi Semua?

Di negeri ini, di ranah kelahiran serumpun nabi, sudah berpuluh tahun seruan-seruan penguasa Israel bergaung bersama ayat-ayat suci yang terus mendaku, namun tak kunjung genah dengan Tuhan. Yang terus menjunjung, namun tak kunjung berdamai dengan “Tanah Yang Dijanjikan.” Yang terus mengumandangkan, “Kamilah cahaya di antara bangsa-bangsa”, namun tak kunjung membuktikannya di depan tolok ukurnya yang sejati.

Tel Shiloh! Tel Shiloh!

Akan kami pancangkan tugu penanda di situs sucimu. Juga di Bethel. Juga di Hebron.

Kami adalah anak-anak rindu. Dari ribuan tahun lampau.

***

Di tengah udara musim yang dingin, seruan-seruan tadi melintas hingga ke Rafah di Jalur Gaza, bersama desis buldoser berbobot tujuh ribuan kilogram yang menggerus segala yang hidup, yang berabad-abad diwarisi, dan segenap yang tegak dengan bayang-bayang. Juga segenap sarana peradaban yang dalam milenia terbilang.

Dan kendaraan baja itu terus bergerak maju. Terus berdesis. Dengan moncong mata pisau lebar raksasa yang beroda rantai gigi-gigi baja.

Ssserrr ssserrr ssserrr!

Ia melumat tak terhitung rumah, sekolah, gereja, masjid, dan pekuburan. Ia menumbangkan pepohonan, menggusur tetanaman rumah kaca. Ia meremuk kuntumkuntum anggrek serta kebun-kebun buah rakyat Palestina. Ia juga menghancurkan sumur-sumur dan merampas sumber-sum bermata air mereka.

Dan seruan-seruan itu silih berganti.

Wahai yang tak berakar di sini pada tiga ribuan tahun silam, kami menghendaki seluruh tanah leluhur kami kembali. Kanaan seutuhnya!

Advertisements