Cerpen Muchlis Darma Putra (Radar Banyuwangi, 11 Agustus 2019)

Percakapan di Warung Kopi ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Percakapan di Warung Kopi ilustrasi Radar Banyuwangi

TERHITUNG sejak enam bulanan yang lalu, warung kopi Mang Udin tidak pernah sesibuk dan seramai seminggu terakhir ini. Seduhan kopi bikinannya kini meningkat pesat. Gorengan dan ketan urap selalu tandas terjual. Wajah Mang Udin selalu tersenyum semringah karena sebagian dari pendapatannya yang sekarang dapat dia sisihkan untuk keperluankeperluan hidup yang lain.

Hal ini tidaklah serta-merta terjadi begitu saja. Sebab musabab dari ramainya orang yang memesan kopi di warungnya sangat jelas. Terhitung sejak Yanuar, pemuda pengangguran di desanya datang ke warung Mang Udin dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal, keringat dingin bercucuran dari kening dan lengannya. Yanuar buru-buru memesan secangkir kopi. Menenggaknya langsung bagai orang yang sedang kesurupan roh halus, dedemit, atau jin penunggu makam.

Sontak Kang Parman dan Pak Siraj yang sudah lebih dulu tiba di warung Mang Udin terheran-heran dengan tingkah Yanuar. Tidak biasanya pemuda desa itu bertingkah polah aneh seperti kali ini.

“Gawat, Kang! Gawat….”  Yanuar menyeka keringat, mengatur tarikan napasnya yang masih kembang-kempis.

“Gawat kenapa Yan?!” Kang Parman yang semula duduk di samping Pak Siraj bangkit mendekati tempat duduk Yanuar.

“Pokoknya mah gawat, Kang. Di kampung kita ini sepertinya sudah tidak aman lagi.”

“Kenapa kamu berpikiran begitu Yan? Kamu barusan habis kena begal atau apa?” selisik Kang Parman mengamati Yanuar dari kepala sampai kaki.

“Bukan, Kang, menurut saya ini lebih gawat lagi!” jawab Yanuar dengan napas yang masih ngos-ngosan.

Tentu saja Mang Udin dan Pak Siraj yang ikut menyimak segera merapat ke tempat duduk Yanuar. Mencari tahu apa yang sebenarnya  sedang terjadi.

“Barusan, waktu saya melewati jalan setapak di samping kebun Mang Fadil, tanpa disengaja saya melihat seperti ada dua carik kain putih beterbangan di langit dari utara ke arah selatan berulang-ulang.”

Advertisements