Cerpen Erwin Setia (Padang Ekspres, 18 Agustus 2019)

Lenyapnya Bendera-bendera ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Lenyapnya Bendera-bendera ilustrasi Orta/Padang Ekspres

PAGI pada Hari Kemerdekaan, bendera-bendera lenyap dari tiang-tiang. Para penduduk desa kebingungan. Mereka memandangi tiang-tiang bendera di depan rumah yang telah dipasang sedari awal bulan dengan hampa. Tiang-tiang itu kini terlihat seperti makhluk kurus tanpa kepala. Padahal sebelumnya bendera dwiwarna merah-putih berkibar gagah setiap hari. Terlebih pada hari ketika angin berpacu layaknya kuda.

Mereka sudah berkumpul di lapangan desa. Menurut jadwal, seharusnya pagi itu mereka melakukan upacara bendera sebagaimana yang lazim mereka lakukan tiap tahun. Namun, lapangan berganti fungsi menjadi tempat menggunjingkan soal hilangnya bendera-bendera secara misterius. Bahkan, bendera-bendera yang berada di dalam gerobak para penjual bendera juga turut lenyap. Seolah-olah ada hewan antah berantah pemakan bendera yang kelaparan malam tadi dan melahap habis seluruh bendera.

Haryo, pemilik tiang paling tinggi dan bendera terbesar, sekaligus pegawai negeri terpandang sedesa, membuka tabir dugaan. Ia mengenakan pakaian santai, namun ekspresi dan cara bicaranya tak sesantai pakaian di badannya.

“Aku rasa ada pemberontak yang tak suka bendera bangsa kita berkibar jaya. Lalu dengan beringas mereka merenggut bendera-bendera dari tiang-tiang rumah saat orang-orang terlelap. Belakangan kan banyak orang-orang bermental bigot,” geram Haryo. Mukanya memerah dengan mata seakan ingin meloncat dari tempatnya.

“Tapi, bagaimana bisa? Aku begadang sepanjang malam dan tidak mendapati seorang pun yang tampak mencurigakan. Lagi pula, mana ada pemberontak yang bekerja dalam kesunyian.” Barjo, penjaga keamanan desa yang rutin berkeliling tiap malam memberikan kesaksian.

Orang-orang yang berhimpun di lapangan bergeming. Sebagian menundukkan kepala menatap tanah lapang kering seakan mencari jawaban misteri hilangnya bendera melalui isyarat kerikil dan rumput-rumput. Sebagian lain mendongakkan kepala ke arah langit. Mereka hanya menemukan burung-burung dan awan-awan. Warna burung-burung itu bukan merah dan putih. Dan awan-awan yang bergerak lambat berwarna kelabu akibat polusi.

Advertisements