Cerpen Daisy Rahmi (Solo Pos, 18 Agustus 2019)

Kartu Truf ilustrasi Solo Posw.jpg
Kartu Truf ilustrasi Solo Pos

Ketegangan menggantung di udara. Pertemuan berlangsung hampir satu jam dan bukan pertama kalinya. Kedua pihak bertahan dengan keinginan masing-masing. Dhea menarik napas lalu mengembuskannya perlahan melalui mulut. Jauh di lubuk hatinya si gadis jenuh tapi untuk menerima begitu saja ia pun tak rela. Rissa dan Donny duduk mendengarkan Edo yang ditunjuk sebagai juru bicara. Di antara celoteh dan gelak tawa riang para bocah dari balik pintu, terdengar suara menyuruh mereka tenang.

“Sungguh aku merasa berat minta ini darimu, Dhe,” ucap Edo kesekian kali. Sorot mata lelaki itu berbanding terbalik dengan kata-katanya. “Tapi saat ini kami benar-benar butuh.”

“Aku bisa membantumu mencari tempat baru, Dhe,” timpal Donny. Bibirnya tersenyum, terlihat tulus, tapi Dhea tidak tertipu. Dia sudah sangat mengenal Donny untuk tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di pikiran laki-laki itu.

“Tidak perlu,” jawabnya dingin.

Untuk pertama kalinya Rissa membuka mulut. Suaranya tajam mengiris.

“Kau memang kesayangan Papa, tapi rumah ini bukan milikmu seorang.”

Rissa memandang gadis di depannya dengan mata yang membara oleh kemarahan. Ia dan kedua kakak lelakinya tak menyukai adik tiri mereka, begitu juga sebaliknya. Tanpa gentar Dhea menentang pandangan Rissa. Edo mengisyaratkan saudara perempuannya untuk diam, kemudian berkata pada Dhea. Nada suara yang semula membujuk berubah tegas, tanda ia mulai jengkel.

“Jangan keras kepala. Jangan paksa kami menggunakan cara keras.”

Mata Dhea berkilat.

“Kau mengancamku, Ed?”

“Kau ingin membawanya ke pengadilan, Dhe?” Edo balik bertanya. “Kami sanggup.”

Dhea tersudut. Saudarasaudaranya telah bertekad untuk mendapatkannya. Tak ada gunanya melawan. Berperkara di pengadilan hanya membuangbuang waktu, tenaga dan uang. Bukan tindakan bijaksana. Dhea tersenyum kecut.

“Kalian menang.”

Advertisements