Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 18 Agustus 2019)

Kampung Pelarian ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Kampung Pelarian ilustrasi Suara Merdeka

Setelah mengarungi hutan belantara, naikturun bukit dan lembah, dalam pelarian sampailah si Monyet di sebuah kampung di balik bukit. Kampung yang dikungkung dinding cadas, gerinjul tanah berkapur, dan pohon-pohon kurus berdaun separuh kering meranggas. Tonjolan batubatu besar muncul dari permukaan tanah serupa arca raksasa yang tak sempurna dikuburkan. Sinar matahari yang jatuh dipantulkan kembali oleh tanah, sehingga udara sejuk diisap tak bersisa.

Rumah penduduk sangat jarang dan berjauhan. Sulit sekali mendapatkan air. Untuk membuat sumur harus menggali puluhan meter guna menemukan mata air. Di sanalah mereka bergantian mengambil air untuk memasak dan minum. Mandi dan mencuci mereka lakukan di anak sungai berair keruh jauh di kaki bukit.

Si Monyet tidak terlalu merasa asing dengan kampung ini. Ia merasa entah kapan dan untuk apa pernah singgah dan akrab dengan kampung ini. Seperti de javu. Ia tak mengira dalam pelarian sampai ke kampung ini. Penduduknya memang baik dan ramah, tapi miskin. Mungkin karena miskin itulah mereka baik dan ramah. Mereka tak memiliki apa-apa yang bisa disuguhkan ke para pejalan yang kemalaman, selain senyuman.

“Apa nama kampung ini, Nek?” Si Monyet bertanya kepada pemilik satu-satunya kedai yang dia jumpai di kampung ini.

“Kampung Playon,” sahut si nenek, seraya mengangkat singkong rebus dari tungku di sisi kedai. Meski sangat sepuh si nenek tampak masih kuat dan cekatan. Enteng saja dia mengangkat panci besar dari tungku.

Si Monyet agak terperanjat. Jawaban si nenek seperti menyindir. “Mungkin hanya kebetulan,” pikir si Monyet. Tak mungkin perempuan peyot itu menyindir. “Dari mana dia tahu aku pelarian,” sergah si Monyet seraya menggaruk kepala.

“Kampung tempat singgah dan menetap para pelarian,” tambah si nenek tanpa lepas dari kesibukan.

Kedai kecil ini beratap anyaman rumbia seperti keseluruhan atap rumah di kampung ini. “Kami dulu para pelarian, dan sampai sekarang masih pelarian, tapi sudah dilupakan. Kami menetap di sini karena tak tahu mesti lari ke mana lagi.”

Si Monyet ingin bertanya kenapa mereka jadi pelarian, tapi merasa tak nyaman. Tenggorokannya kering dan dia merasa terjebak di tempat yang salah. Ia khawatir nenek ini sungguhsungguh sedang menyindir. Ia harus hati-hati. Nalurinya berkata untuk sesegera mungkin meninggalkan kampung ini.

Advertisements