Cerpen Hendy Pratama (Fajar, 18 Agustus 2019)

Hikayat Jagal ilustrasi Fajarw.jpg
Hikayat Jagal ilustrasi Fajar

“Jangan sebut aku ateis!” gertakku, lantang—sebelum pelatuk revolver itu ditekan, lantas pelor menusuk kepalaku. “Aku bukan jagal yang tak beragama. Aku menjadi jagal hanya untuk menjaga kampungku!”

***

Perkampungan tempatku menetap amatlah damai. Tak bakal kautemui pencopet melewar mencari mangsa. Sebab, mereka akan berhadapan dengan para jagal. Banyak jagal disewa oleh Pak RT. Gaji para jagal diambilkan dari uang iuran masyarakat per bulan. Tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit. Cukup untuk membuat asap dapur tetap mengepul.

Terakhir kali kudengar, ada pencopet yang mengambil barang seorang ibu ketika berbelanja di pasar. Kemudian, pencopet itu dikejar oleh seorang jagal yang sedang berjaga. Mereka berlarian. Lintang pukang. Kejar-mengejar, menerobos kerumunan pasar. Melewati gang sempit, meliuk-liuk. Melawan bau amis ikan tongkol. Dan bau tak sedap yang menyembul dari got. Serta rintangan lainnya.

Tak berselang lama, jagal nomor satu di kampungku—Bos Jagal, melumpuhkan pencopet itu dengan sekali pukulan. Pencopet jatuh. Tersungkur. Wajahnya biru lebam. Babak belur. Tanpa ampun, jagal itu tetap memukuli pencopet sampai mampus. Barulah, si jagal menyerahkan dompet yang dicopet kepada pemiliknya.

“Makasih, Bang Slamet,” seru ibu itu, membungkuk.

“Sama-sama. Lain kali hatihati, ya.”

Ibu pemilik dompet mengangguk takzim.

Tanpa isyarat, ibu separuh baya memberikan imbalan pada Bang Slamet; setumpuk uang yang cukup untuk membeli lima bungkus rokok. Jagal nomor wahid itu tak menolak. Sebab, seperti itulah budaya jagal di kampungku. Meski harus memberi upah, masyarakat sama sekali tak keberatan.

Aku suka dengan kehidupan di kampungku ini. Selain di keramaian pasar, jagal juga disewa untuk mengamankan rumah-rumah masyarakat. Tidak semua penghuni rumah menyewa jagal. Hanya rumah orang kaya. Kehidupan para tukang pukul sangat disegani di sini. Mungkin, karena bermanfaat. Atau, jika mereka tidak dibayar, mereka akan menjelma pemeras, pemalak, dan sebagainya. Karena itu, masyarakat memuliakan jagal. Hingga, kampungku dinamai Kampung Jagal. Tempat jagaljagal dibudidayakan.

***

Advertisements