Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 18 Agustus 2019)

Gir ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Gir ilustrasi Budiono/Jawa Pos

SIANG, jelang pulang dari rumahmu. Di halaman berdebu itu, antara berbagi menghirup udara terik dan aroma bangkai tikus yang tengik, kita sama-sama menjadi telik. Kita menelisik bau daging busuk menusuk yang barangkali telah cukup lama ngendon di tepian kali kecil depan terasmu itu.

Lantas kita berkelakar, bicara lelucon kelahiran, kehidupan, dan sudah barang tentu kematian. Meski hanya dalam hitungan menit sekian detik; kematian tikus, kematian manusia, dan kematian pengarang.

“Cak, kita sama-sama gendeng dalam menempuh jalan kematian,” katamu.

Dan memang kita telah berkali-kali mati. Mati berkali-kali.

Begitu pendek waktu, demikian sempit ruang, sementara begitu mahaluas samudra kata, hingga kita sama-sama lupa kapan dan apa yang sebenarnya telah kita bicarakan. Mungkin pula saat itu kita sebetulnya tidak sedang bicara apa-apa. Ataukah barangkali sesungguhnya kita bicara dari hati ke hati melalui bahasa yang sulit dieja, namun kita telah sama-sama mengerti kedalaman maknanya.

Ya, sebagaimana siang itu aku geret sederet kalimat; betapa engkau tak pernah urus halaman rumahmu dari bau busuk binatang sial itu, yang barangkali tak hanya sekali pada hari itu. Anehnya, betapa kamu rawat dengan teliti, tekun, sabar, penuh kasih pada latar, taman, rerumputan, semak belukar, aroma kembang, bahkan butir kerikil atau selembar daun yang jatuh bergulir di halaman-halaman buku teman, handai tolan, sahabat, kerabat, murid, guru, sejawat yang mungkin tanpa bayaran itu.

“Buku adalah jendela dunia,” katamu.

“Jadi kau merawat jendela dan pintu rumah mereka juga?” sergahku.

Lalu, adakah bunyi, sunyi, atau frasa lain untuk ungkapan ini selain kegendengan atau lelucon? Ngedan dan ngeden sebagai perawi dan perawat altar pemujaan orang waras atas nama ungkapan paling klise di dunia; cinta kesenian?

Seperti biasa kita sama-sama menikmati kegilaan atau lelucon ini dengan gelak tawa. Karena aku meyakini leluconlah mahkotamu dan gelak tawalah rumbai-rumbai perhiasannya. Dan semoga benar adanya bahwa inilah lelucon kita, jikapun tak banyak orang yang bisa menerima bahwa segala lelaku kita adalah doa. Sebagaimana engkau tak pernah memberi jawaban padaku saat kutanya, “Sebenarnya engkau itu dalang, sutradara, pengarang, perupa, penyair ataukah perawi halaman buku?” Rupanya sebagaimana tak pentingnya pertanyaanku, kau pun tak memberiku jawab tersebab engkau meyakini aku telah tahu jawabmu.

Advertisements