Cerpen Ami Khairunnisa (Analisa, 14 Agustus 2019)

Menyematkan Saka ilustrasi Alwi - Analisaw.jpg
Menyematkan Saka ilustrasi Alwi/Analisa

Pagi sekali, sebelum matahari menyembul kemerahan, dia sudah siap dengan sebatang kayu yang ujungnya diberi logam persegi panjang untuk menggemburkan tanah yang sudah mengeras tak ada unsur haranya.

Di samping kanan sudah tersedia sepiring ubi rebus dan kopi hitam pekat dengan gula hanya setengah sendok. Jelas bukan karena dia tak suka manis tapi memang tak perlu dituangkan banyak-banyak. Kopi tetap kopi yang semanis apa pun dibuat tetap terasa pahit, karena sendokan lainnya bisa untuk menambah rasa gurih dalam masakan anaknya siang nanti.

“Pak, sudah hendak pergi, kah?”

“Belum habis kopi yang kau buatkan. Suka sekali kau melihat bapakmu tak di rumah ya?” jawabnya bercanda.

“Bukan begitu, Pak. Maksudku, sudahlah Bapak mencangkuli kebun itu. Tak pala seharian bapak di sana, aku sudah bisa bekerja. Kemarin Ratna menawariku kerja di sebuah grosir baju. Gajinya lumayan, rasanya cukup untuk harian kita jadi Bapak tak perlu pergi sedini ini dan pulang selarut itu.”

“Jadi menurutmu aku bisa diam saja di rumah, menunggu kau pulang kerja dan setelah kau pulang maka aku tidur. Begitu? Aku ini Bapakmu, Magana. Sudah terbiasa aku bekerja seharian dari umurku masih menelan belasan tetangga.”

Meski maksudnya baik, dia tetap tak bisa menghentikan Bapaknya itu. Tak bermaksud durhaka, dia hanya ingin meringankan pundak Bapaknya tapi masih bersuara saja sudah ditolak mentah-mentah.

“Lagi pula dari sanalah aku, kau, bahkan ibumu hidup selama ini. Tidak mendatanginya barang sehari saja rasanya rindu mengunyah pilu tubuhku. Sudahlah, kau di rumah, bersihkan dan rapikan. Kira-kira aku sekarat nanti barulah kau boleh bekerja.”

Magana paham betul, bahwa segala hal dalam hidupnya memang bapaknya yang mengatur. Sebelum hari itu tiba, ketika ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah karena tak sanggup memikul kemiskinan. Meninggalkan suami yang pernah dia janjikan akan dia temani hingga akhir hayat, juga anak perempuan yang manis dan sedang pintar-pintarnya.