Cerpen Dewandaru Ibrahim Senjahaji (Rakyat Sultra, 13 Agustus 2019)

Kang Sareh ilustrasi Istimewa.jpg
Kang Sareh ilustrasi Istimewa

Usai sembahyang Magrib di langgar, Kang Sareh pulang ke rumah. Ia duduk di ruang tamu yang sederhana, berniat melanjutkan ritual kecil dengan keretek yang hanya tinggal dua Batang. Keretek terakhir yang mungkin bisa ia isap sebelum lebaran datang. Baru separuh ia menikmati kereteknya terdengar suara isak perih. Awalnya ia ragu itu berasal dari kamar istrinya, tetapi lamat-lamat ia perhatikan ternyata memang berasal dari kamar istrinya. Ia segera mematikan rokok, membuang baranya dan menaruh puntungnya di pinggir asbak berharap bisa disambungnya nanti.

Dihampiri bilik istrinya yang setengah tertutup pintu reyot. Dijumpai istrinya terduduk lesu dan menunduk. Pemandangan yang tak pernah ia lihat dan baru kali ini agaknya sedikit mengiris hati, namun pelan-pelan ia menghampiri.

“Kau menangis? Ada apa? Kau kangen dengan Rama biyungmu?”

Istrinya berhenti sesenggukan, tetapi tetap terdiam.

“Sudahlah, besok kita ke sana.”

“Kang…” Suaranya agak tercekat dipenuhi rasa sedih. Matanya menusuk hati suaminya yang kosong.

“Besok lebaran, Kang. Kita sama sekali tak punya uang. Jangankan untuk baju si lanang, untuk sarapan besok saja kita tak punya. Belum lagi kita belum setor beras untuk zakat.” Ia kembali larut oleh tangis yang lebih parah. Tak bersuara namun jelas betapa ia menahan perih hingga sesenggukan lagi.

Kang Sareh memandang dengan tatapan nanar. Ia ingin menangis tetapi sebagai laki-laki dan kepala keluarga ia harus menahan. Diliriknya anak lanang yang sedang bermimpi indah mengenakan baju lebaran dan beberapa mainan. Wajahnya sesekali tersenyum sangat manis.

“Maafkan aku, Mak! Apa kau masih percaya padaku? Apa kau masih percaya Tuhan?”

“Tetapi kita tak punya uang lagi, Kang. Pada hari-hari biasa kita masih bisa makan dari hasilku jualan. Semenjak ramadan aku tak jualan dan simpananku sudah habis,” ucap istrinya lirih sambil menahan tangis.

Kang Sareh mendengar dengan hati teriris. Baru kali ini ia melihat istrinya meminta sesuatu. Ia memang tak berpenghasilan tetap, pekerjaannya tak menentu. Kadang kuli bangunan kadang kuli angkat barang, kadang pula ikut jadi kuli panen di sawah dekat rumah. Bukannya malas, ia juga bekerja sebagai guru ngaji di sebuah TPQ dan Madin di kampungnya. Di TPQ dan Madin itu ia bekerja tanpa imbalan uang, bahkan ia sendiri yang meminta untuk tidak dibayar. Ia lebih mementingkan pengajian di TPQ dan Madin daripada urusan dapurnya. Ia sadar mungkin ini telah keterlaluan. Tetapi baginya ini adalah prinsip dan jalan hidupnya.