Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 11 Agustus 2019)

Selagi Ia Menulis Cerita Pendek Ini ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Selagi Ia Menulis Cerita Pendek Ini ilustrasi Budiono/Jawa Pos

IA teringat pada ucapanmu, yang pernah kau utarakan bertahun-tahun lalu, di halte bus yang sepi pada pukul dua puluh dua, seberang Grand Indonesia, “Apa kamu mencintaiku?”

Usianya baru delapan belas tahun waktu itu. Tetapi, ia pernah bilang secara jujur bahwa ia mengagumimu. Kau berumur tiga puluh tahun. Kau merasa hubungan kalian sedikit ganjil. Perbedaan usia yang tak lazim.

“Kamu seumuran dengan adik bungsuku,” ia teringat juga dengan kata-katamu ini saat menulis paragraf ketiga cerita pendeknya.

“Lalu?”

“Kamu nggak malu jalan denganku?”

“Kamu cantik, kenapa aku harus malu?”

Ia memang mengatakan itu. Ia jujur. Namun, ia masih bertanya-tanya sekarang, kenapa ia tak menjawab saat kau bertanya, “Apa kamu mencintaiku?”

***

IA menjangkau gelas kopinya, menghirup isinya perlahan sembari matanya menatap layar komputernya. Ia masih menulis cerita pendek ini ketika ingatan tentangmu menyerangnya tanpa ampun. Kau tahu? Matanya berkaca-kaca dan mungkin saja sekarang ia tengah menyesal, kenapa ia tak pernah menjawab pertanyaanmu malam itu.

“Kenapa kamu harus nanya gitu?” ia justru balik bertanya tanpa memedulikan air wajahmu yang berubah. Kau menatap lurus ke jalanan yang lengang. Kalian duduk rapat, tapi tak ada yang memulai untuk saling menjangkau tangan yang tertumpu di kursi halte.

“Aku cuma mau tahu saja,” hanya itu yang kau jawab.

“Apa karena usia?”

“Maksudmu?”

“Kamu ingin segera menikah?”

Kau diam sejenak, meluruskan punggung, membuat kedua lenganmu yang menumpu di kursi menjadi lurus. Sepasang matamu berlari ke dalam kegelapan malam yang pucat, terpendar-pendar cahaya lampu jalanan.

“Apa aku terlihat tua?” kau kembali bertanya.

Dia menggeleng. “Hanya dewasa.”

Advertisements