Cerpen A. Warits Rovi (Koran Tempo, 10-11 Agustus 2019)

Kippenwaterzoi Dan Seorang Penulis Muda ilustrasi Koran Tempow.jpg
Kippenwaterzoi dan Seorang Penulis Muda ilustrasi Koran Tempo

Di taman kecil Kota Bernisse, akhirnya aku bertemu Elske. Berlatar sepotong senja yang dilabuhi ratusan merpati. Sisa musim dingin mengentalkan salju di punggung daunan. Di sudut taman, beberapa orang duduk santai sembari melantunkan lagu Schoon ver van jou. Sebagai salah satu anggota residensi, tentu aku agak canggung, karena pengetahuanku perihal etika Belanda sangat terbatas, tapi bukan soal itu, hal lain, karena ia kukenal sebagai seorang penulis terkenal, dengan banyak job dan banyak karya serta impian banyak penerbit. Alasan itulah yang mengharuskanku berkata sebagus mungkin, seindah mungkin.

Kami duduk di kursi besi yang panjang. Aku langsung berhadap-hadapan dengannya, pandanganku terantuk pada kacamata tipisnya yang transparan, mantel biru yang seperti dipenuhi bulu-bulu dan scarf putih yang melilit hingga nyaris menyentuh lututnya. Kepalanya berbalut topi bobble. Helai rambutnya yang pirang, menyampiri punggungnya dengan urai yang bergelombang.

Kali ini, Elske datang bersama wanita tua tunanetra yang selalu dijaga oleh seekor anjingnya. Ia sangat hormat pada wanita itu, seperti takut kehilangan dia.

“Apa dia ibumu?” akhirnya meledak tanya singkatku.

Dia menggeleng. Tersenyum, tapi tak meledakkan jawaban apa-apa. Aku masih ingat, dia adalah wanita yang sering ada di foto-foto Instagramnya. Suatu ketika, aku pernah membaca postingannya, wanita tunanetra itu ia sebut malaikat.

“Namaku Margreet Wigburg. Aku hanya penyuka Kippenwaterzoi, yang setia mendampingi perempuan ini ke mana pun pergi,” wanita tua itu seketika menggetarkan bibir bekunya, bersamaan dengan tangan kanannya yang merogoh sebuah bungkus plastik dari tas yang ia taruh di sampingnya. Lalu ia membuka bungkus itu, sup khas Belanda menguarkan harum yang renyah.

Aku mengangguk canggung, seolah jawaban wanita tunanetra itu adalah luapan ketersinggungannya atas pertanyaanku tadi. Aku sebatas mengangguk-walau cara itu tak mampu membuatnya mengerti karena ia tak bisa melihat-aku tak tahu hendak berkata apa, kecuali memandang bibirnya yang berlipat-lipat naik-turun, dilumur basah oleh kuah sup itu. Beberapa kali ia melempar isi sup itu ke arah anjingnya yang menderum di samping kaki kursi. Anjing jenis Dutch Shepherd itu menjilat-jilat makanan yang ia berikan, menggonggong halus dan memutar pandangannya ke wajah wanita tunanetra itu.

Advertisements