Cerpen Rahul Syarif (Rakyat Sultra, 05 Agustus 2019)

Aroma Kematian ilustrasi Istimewa.jpg
Aroma Kematian ilustrasi Istimewa

Kira-kira, apa yang lebih pekat dari kematian? Kopi? Dosa? Atau sebuah jalan panjang tanpa lampu?

Sore sebelum aku memutuskan untuk bunuh diri, seseorang berjalan mendekatiku. Itu di sebuah pusat perbelanjaan di pinggir kota, saat aku sedang belanja. Wajahnya hancur. Di bagian kelopak mata terlihat lebam dan menutupi mata kirinya untuk terbuka, hidungnya sedikit bengkok dan pinggir bibir terlihat robek. Aku berusaha untuk tidak memperhatikannya dengan menjadi sibuk dengan sekitar. Karena mata kirinya yang hampir tidak bisa digunakan melihat, beberapa kali ia terlihat membantu dengan mata kanan. Sesekali aku merasa aneh sendiri ketika mataku secara tidak sengaja tertangkap oleh matanya.

Lelaki itu hanya diam dalam waktu yang agak lama. Tangan kanannya terlihat gemetar ingin meraih saku jaketnya. Ia merogoh dan mengeluarkan sebuah bunga. Ditaruhnya bunga itu di antara stan buah-buahan. Kemudian ia pergi dengan sigap. Didorong rasa penasaran, aku melangkah ke tempatnya. Menengok kanan dan kiri untuk sekadar memastikan. Aku melihat bunga itu, sebuah bakung putih yang sudah layu. Bagian cantik dari warna putihnya sudah mulai berubah kehitaman. Dalam proses otakku mencerna maksud lelaki itu, satu hal yang baru saja aku sadari: lelaki itu sangat mirip denganku. Setidaknya itu yang bisa kulihat dari tinggi, postur tubuh, sampai bentuk rahangnya. Aku bisa mengenalinya karena itu wajahku sendiri tetapi versi yang sangat hancur. Tidak ingin berpikir panjang, aku menyambar troli belanjaanku dan bergegas ke kasir.

Sebelum malam, aku sudah harus sampai di rumah untuk mandi sebelum petang. Rencana pertama malam ini, aku akan dengan menonton film favoritku dengan khusyuk. Tidak ada tamu. Tidak ada telepon. Semua hanya tentang diriku. Dari rak DVD, tanganku meraih kaset “Final Destination”. Film itu mengingatkanku tentang satu momen. Aku sangat ingat, waktu pertama kali ke bioskop bersama Ibu dan Ayahku. Pilihan film masih sedikit sehingga yang kami lakukan adalah memilih dengan menyesuaikan jadwal yang ada saat itu. Pilihan jatuh ke film “Final Destination”. Pada saat itu, kira-kira usiaku masih 11 tahun. Usia yang belum patut dibawa masuk ke bioskop menyaksikan adegan berdarah. Dengan sedikit lobi dari ayahku, penjaga loket mengizinkan kami masuk. Film itu tentang mencurangi takdir kematian. Beberapa adegan digambarkan dengan sangat sadis dan aku menikmatinya tidak kurang.

Advertisements