Cerpen Mohammad Farid Fad (Jawa Pos, 04 Agustus 2019)

Senyum Gus Miftah ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Senyum Gus Miftah ilustrasi Budiono/Jawa Pos

AKU hanya bisa merasakan tubuhku lunglai. Mungkin akibat tadi telat makan siang hingga asam lambungku naik, pikirku. “Mbok, minta wedang jahe anget seperti biasa,” pintaku.

“Gelas kecil kan, Den?” tanya Mbok Pinah.

“Iya, Mbok,” jawabku singkat.

Warung Mbok Pinah memang terkenal di kalangan santri. Ia tak hanya menjual aneka wedang dan gorengan. Di sana juga tersedia nasi kucing dengan pincuk khas daun pisang. Bukan bungkusan kertas seperti di warung kucingan lain.

“Sebenarnya, kalo kamu mau dapetin Gus Miftah tu mudah kok, cukup melobi Bu Nyai Aminah, selesai perkara,” celetuk seorang pria paro baya sembari terus mengepulkan asap rokoknya.

“Dengerin tu omongan Kang Naim. Apa aku bilang? Sampean cukup sowan Bu Nyai.”

“Tapi aku gak pede Kang sowan, nembung, Bu Nyai,” sahut Ning Dona, panggilan akrab Ning Romdhonah.

“Lha Gus Miftah tu cesplengnya cuma dingendikani Bu Nyai. Aku pernah lihat sendiri Ning waktu dia dituturi Bu Nyai. Hanya nunduk tanpa nyahut sepatah kata pun,” jawab Ririn alias Rina Muyasaroh.

“Coba kamu selidiki dulu apa alasannya dia gak nikah-nikah, padahal teman-teman seumurannya udah beranak tiga. Kalah dia ma aku. Aku sudah berpinak lima,” kata Gus Rizal yang diam-diam iri pada laris manisnya Gus Miftah.

Obrolan itu tak sengaja mampir ke kupingku. Aku memang tidak kenal dekat dengan Ning Dona. Ia terlihat modis. Pakaiannya menjuntai menutupi lekuk tubuhnya yang tinggi berisi itu. Namanya sering dibicarakan para santri. Mungkin karena parasnya yang nggemesi.

Perihal jejaka yang telat nikah sebenarnya bukan barang baru di kampungku. Sudah sering terdengar laqab kalo pemuda-pemuda di kampungku adalah kumpulan para bujang lapuk. Ada yang bilang itu karena jarak kampungku yang amat terpencil sehingga menyulitkan penduduk bergaul dengan kampung seberang. Banyak pula cerita lain yang sering dihubungkan dengan kabar mistis.

Advertisements