Cerpen Budi Sardjono (Kedaulatan Rakyat, 04 Agustus 2019)

Seekor Kunagng-kunang ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Seekor Kunagng-kunang ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

AKU kaget ketika anakku berteriak-teriak sambil menggedor-gedor daun pintu. “Ada binatang ajaib! Pak, ada binatang ajaib! Bapak kemari cepat!”

Layar komputer terpaksa kutinggalkan. Pintu kubuka. “Mana binatangnya?”

“Itu! Itu!” anakku menunjuk ke kebun di samping rumah. Ketika aku melongok, di kebun itu tampak seekor kunang-kunang. Cahayanya kelap-kelip di tengah kegelapan. “Itu binatang ajaib kan Pak?” tanya Nuri, anakku.

“Itu namananya kunang-kunang,” jawabku.

“Tapi ajaib karena bisa menyala seperti lampu.”

“Dia itu masuk keluarga serangga. Punya ordo bernama Coleoptera,” kataku. Bisa dimaklumi kalau Nuri kaget sekaligus terkagum-kagum. Karena baru pertama kali itu ia melihat kunang-kunang.

“Kok tubuhnya bisa mengeluarkan cahaya, Pak?”

“Cahaya itu dihasilkan dari semacam sinar dingin yang sama sekali tidak mengandung ultraviolet maupun inframerah,” jawabku seperti seorang guru biologi. “Panjang gelombangnya antara 510 sampai 670 nanometer.”

“Ah, apa itu!” tukas Nuri. “Pokoknya bagiku dia itu binatang ajaib. Karena bisa seperti lampu yang mengeluarkan cahaya. Titik!” lanjutnya sambil masuk rumah. Mungkin jengkel karena penjelasanku. Terlalu ilmiah.

Sekarang saja aku bisa bicara sok ilmiah. Padahal dulu aku percaya sekali ketika Nenek cerita asal-usul kunang-kunang. Dari teras rumah Nenek aku bisa melihat ribuan kunang-kunang di persawahan. Rumah Nenek berada paling pinggir, langsung menghadap daerah persawahan yang luas.

“Kunang-kunang itu asalnya dari airmata bidadari yang menangis,” cerita Nenek kira-kira 30 tahun yang lalu.

“Kok banyak sekali, Nek?” tanyaku waktu itu.

“Bidadarinya tidak hanya satu. Mungkin ada 100.”

“Mengapa mereka menangis?”

“Mereka mau diusir dari khayangan. Karena bersekongkol melawan para dewa.”

“Kok bersekongkol?”

Advertisements