Cerpen Syafril (Prel T) (Singgalang, 04 Agustus 2019)

Sandal Ustad Buya ilustrasi Singgalangw.jpg
Sandal Ustad Buya ilustrasi Singgalang

PENGUR PENGURUS US US US US masjid dan beberapa orang jemaah yang masih tersisa benar-benar tersentak. Seperti digegar halilintar tengah hari mereka mendadak terpaku dan melongo. Tidak seorangpun percaya kalau Ustad Buya yang beberapa menit lalu berdiri di mimbar menjadi khatibyang santun, intelektul, dan penuh wibawa menyampaikan khotbahnya dan kemudian mengimami sholat Jumat dengan bacaan-bacaan yang fasih dan berirama, kini mendadak marah-marah, membentak-bentak, mengumpat-umpat, bahkan menyumpahnyumpah karena kehilangan sandal.

“Inilah kenyataan umat sekarang.Ini buktinya. Bagaimana bisa maju. Moralnya sudah rusak. Akhlaknya sudah hancur.Tidak lama lagi semua akan punah!” Umpat Ustad Buya dengan suara lumayan keras dan tidak  peduli, seperti ingin menyambung khotbah yang tadi telah ia sampaikan, sambil mencari-cari sandal yang belum ia temukan di sekitar halaman masjid.

Seperti baru tersadar, dan seperti ikut merasa bersalah, pengurus masjid dan beberapa orang jemaah yang tadi belum beranjak pulang segera membantu mencarikan sandalnya. Tetapi tidak ditemukan.

“Begini saja, Ustad…” kata pengurus masjid seketika sembari menghampirinya. “Pakai saja sandal saya dulu, ini.”  Ia lalu menyodorkan sandalnya ke kaki sang ustad. “Sementara itu, kami segera mencari sandal baru untuk pengganti. Kami antar langsung ke rumah…” sambung pangurus masjid membujuk, berusaha meredakan amarah Ustad.

“Ini bukan masalah ganti mengganti sepele begitu. Tidak perlu. Saya bisa beli sendiri!” Timpal Ustad. “Sunggug-sungguh sangat menyebalkan!” sambungnya masih emosional sambil menghentikan seketika pencarian yang sudah ia lakukan ke mana-mana namun tetap tidak ada hasil.

“Dengar,” ucapnya lagi. “Betapa tidak menyebalkan. Entah sudah yang keberapa kali, tidak lagi bisa dihitung saya telah kehilangan sandal di masjid!”

Ia langsung berbalik meski dengan kaki telanjang, menuju kendaraan roda empat di halaman parkir. Mobil terbilang mewah berkaca gelap itu segera berlalu, meninggalkan sejumlah orang yang kembali melongo menatap kepergiannya.

***

Advertisements