Mungkin aku sudah jodoh dengan Dara. Dua bulan kemudian ayah dan adiknya muncul lagi di kedai itu. Mereka nampak kusut dan susah. Aku sekilas mendengar mereka akan menjemput Dara. Ternyata ia punya jadwal rutin pulang ke Kutaratu setiap akhir pekan ke empat tiap bulannya. Berarti aku tak menjumpainya di bulan lalu. Aku ikut sedih mendengar bahwa ibundanya sakit keras. Mungkin karena itu ia pulang setiap bulannya. Aku akan berusaha datang ke kedai pada jadwal perkiraan ia akan datang. Biasanya untuk kedatangan ia akan langsung pulang dan baru akan ke kedai untk keberangkatan kembali ke Johor Bahru. Kuperkirakan ia akan sampai di Kutaratu pada jumat malam dan kembali ke Johor Bahru pada minggu malam.

Perkiraanku benar! Tiga hari kemudian aku melihat Dara di kedai, menunggu keberangkatan minggu malam. Ia diantar salah satu adik dan ayahnya. Matanya sembab tapi ia nampak tegar, seperti menguatkan ayah dan adiknya. Tapi aku tak mendatanginya karena sepertinya momennya tidak tepat.

Bulan berikutnya kami bertemu untuk yang ketiga kalinya saat ia akan berangkat. Ia turun di area dropping penumpang lalu menyeberang untuk membeli air mineral saja. Pandangannya sedikit kosong tapi tersenyum ramah dan menjawab sopan ketika pegawai kedai menyapanya. Antara sebentar ia melihat ke layar telepon genggamnya. Aku yakin ia bahkan belum melihatku di meja pojok. Aku mendengar dua pegawai kedai membicarakan kecantikannya setelah ia pergi menuju penyeberangan ke arah pintu keberangkatan. Ia hanya membawa tas ransel dan tas laptop dan menghilang ke dalam bandara.

Bulan berikutnya adalah pertemuan ke empat kami, justru saat ia baru tiba, ia mampir ke kedai bersama adiknya. Dari busana yang dipakainya, nampaknya di Johor Bahru ia langsung buru-buru ke bandara dari tempat kerjanya. Ia memesan teh hangat dan adiknya makan mie rebus. Dari perbincangan mereka kuketahui bahwa mereka akan langsung menuju rumah sakit dari bandara. Sambil makan mereka juga mendiskusikan tentang pengobatan ibunda di negeri jiran. Dara sempat memperlihatkan beberapa dokumen kepada adiknya. Mereka nampak tergesa-gesa.

Benar saja dugaanku esoknya tampak Dara dan ayahnya tiba di bandara sambil mendorong ibunda di kursi roda. Ibunda nampak begitu berubah dibanding saat pertama aku melihatnya. Mereka berangkat dengan pesawat pagi ke Kuala Lumpur. Aku ikut cemas memikirkannya, juga memikirkan kapan mereka akan kembali. Setiap hari aku memantau kedatangan pesawat dari Kuala Lumpur. Baru sepuluh hari kemudian aku melihat ayah dan ibu Dara kembali, mereka tak mampir ke kedai jadi aku tak tahu apa yang terjadi.  Wajah mereka nampak cerah dan tenang. Aku ikut senang sepertinya hasil pengobatan berjalan baik. Aku tetap memantau semua kedatangan pesawat, berjaga-jaga jika Dara datang. Untungnya aku tinggal di sekitar bandara sehingga seminggu kemudian aku melihatnya lagi di terminal kedatangan. Ia dijemput paman dan adiknya. Mereka berpelukan dan menangis. Mata mereka sembab. Nampaknya sesuatu yang begitu menyedihkan terjadi. Mungkinkah ibunda telah berpulang?