Cerpen S. Agustina (Serambi Indonesia, 04 Agustus 2019)

Pertemuan Ketujuh ilustrasi Istimewa
Pertemuan Ketujuh ilustrasi Istimewa 

TIAP kali berkunjung ke deretan kedai di seberang Bandara Kutaratu aku suka memperhatikan orang-orang  yang lalu lalang, terutama mereka yang mampir di kedai. Aku sendiri cukup sering datang. Pemiliknya bahkan sudah tahu menu kesukaanku. Orang-orang yang lalu-lalang itu kebanyakan adalah mereka yang baru sampai di kota ini dan menunggu jemputan. Ada juga para penjemput, para pengantar dan calon penumpang yang menunggu jadwal penerbangan. Di depan bandara sendiri ada deretan kursi dan beberapa kedai makan tetapi harga dan pilihan di deretan kedai  seberang jauh lebih murah dan bervariasi. Deretan kedai ini dimiliki warga yang dulu digusur ketika Bandara Kutaratu diperluas. Sekarang deretan kedai ini terletak di seberang jalur kendaraan antar jemput, tepat di sepanjang kawasan parkir. Pelataran parkirnya terletak lebih rendah 6 meter dari  dataran bandara sehingga dari deretan kedai pengunjung selain bisa melihat ke hampir seluruh kawasan parkir yang dihiasi taman dan pepohonan hijau juga bisa melihat ke arah pintu-pintu kedatangan dan keberangkatan. Deretan kedai terhubung dengan bandara melalui dua jalur penyebarangan di jalan depan pintu kedatangan dan keberangkatan. Ada satu jembatan penyeberangan di ujung bandara dan satu jembatan bawah tanah di ujung yang lain. Deretan kedai ini tidak berpendingin udara. Hanya dilengkapi kipas yang berputar lambat di langit-langit. Namun karena tidak ada dinding, bahkan dalam cuaca sangat panas pun masih cukup nyaman untuk duduk di situ. Aku sendiri paling sering mampir sesudah jam makan karena suasananya sudah agak sepi sehingga aku lebih leluasa.

Aku selalu tertarik memperhatikan orang-orang yang datang ke kedai no 7. Kedai ini tidak terletak persis di depan pintu kedatangan atau keberangkatan. Letaknya agak ke ujung tetapi tidak terlalu jauh, kira-kira di antara zebra cross dan jembatan penyeberangan atas. Harga yang ditawarkan sedikit lebih mahal daripada kedai yang lain tapi aku rasa harganya seimbang dengan suasana yang ditawarkan dan yang lebih penting dengan rasa makanannya. Percayalah, karena aku sendiri sudah menguji hampir semua makanan dari tiap kedai di sini.

Orang-orang yang mampir di sini aku rasa mencari kualitas sekaligus kenyamanan tersebut. Jika kedai lain ada yang menggunakan kursi plastik, kursi di kedai ini terbuat dari jati kualitas baik, modelnya sederhana tetapi nyaman. Aku juga suka aksen tikar tradisional ukuran kecil yang dipasang sebagai alas duduk, ditempatkan di bawah kaca meja dan juga sebagai hiasan dinding. Kabarnya tikar-tikar itu didatangkan dari perajin desa yang tak jauh dari bandara.

Advertisements