Cerpen A. Warits Rovi (Solo Pos, 04 Agustus 2019)

Mak Su Memanggul Takdir Sendirian ilustrasi Solo Posw.jpg
Mak Su Memanggul Takdir Sendirian ilustrasi Solo Pos

Mak Su duduk meringkuk di antara barang dagangannya yang diwadahi palasa [1], ditutup lembaran daun pisang dan plastik. Tangan kanannya memegang batang payung dan tangan kirinya sesekali menepuk bagian betis yang digigit nyamuk. Sepasang matanya menatap alir air hujan yang ditumpahkan ujung-ujung kawat di pelipir payung, membentuk garis lengkung hingga bertempias di datar daun pisang yang menutupi dagangannya itu, butir-butir air berlompatan, dan sebagian menjadi busa, hanyut digerus arus air warna cokelat yang deras mengalir, melewati  kaki Mak Su, membawa sampah dan benda busuk lainnya.

Roda pengendara yang lewat di depan Mak Su, tak absen menghadiahkan cipratan ke arah Mak Su. Tapi Mak Su tetap di situ, di samping pintu masuk Pasar Saba, duduk menjual sayur bersama rekan lainnya.

Hujan yang turun sejak semalam masih belum reda, kadang deras kadang tidak, bahkan kadang hanya berupa derai gerimis, lalu deras lagi, disertai angin dan petir. Mak Su mendongak, mengamati langit yang masih tetap berpayung mendung tebal. Wajah Mak Su agak pucat, umpama kembang yang lepas dari tangkainya.

Ia merogoh isi tas kecilnya, setelah dikeluarkan, ia hanya melihat selembar uang lima ribu rupiah agak lusuh tergeletak di telapak tangannya. Sejak sehabis subuh, dagangannya hanya dibeli oleh dua orang, itu pun dengan wajah yang tak sabar dan berkata kasar, seraya mengecam Mak Su penjual serakah karena menurut pembeli itu, harganya sangat mahal.

“Oh! Rakyat kecil sepertiku. Mengapa daganganku disebut mahal? Padahal pada setiap kilonya, aku hanya mendapat laba lima ratus rupiah,” batin Mak Su. Ia  mengelus dada.

Waktu beranjak siang, meski keadaan terlihat seperti masih pagi. Perut Mak Su “bernyanyi”, hanya sepotong singkong dan air putih sehabis subuh yang mengganjal perutnya. Terbersit keinginan untuk membeli sebungkus tahu pedas di gerobak penjual yang ada di sampingnya. Tapi wajah tiga anaknya terbayang, Zainab, Sisil, dan Farhan yang pagi itu pergi ke sekolah tanpa uang saku, perutnya hanya berisi singkong dan air putih. Tak adil rasanya bila ia harus membeli makanan sementara tiga anaknya menuntut ilmu tanpa uang saku.

Advertisements