Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 04 Agustus 2019)

Lelaki Tua dalam Bus ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Lelaki Tua dalam Bus ilustrasi Suara Merdeka

Lelaki tua itu duduk di bangku paling belakang sebuah bus jurusan Surabaya-Yogyakarta. Ia sudah tua, meski belum terlalu tua. Wajahnya tirus. Kulitnya gelap. Kuku-kuku tangannya jarang dipotong dan kotor. Janggut dan alisnya beruban. Giginya kuning-kuning dan mulutnya bau tembakau. Ia mengenakan kopiah hitam yang warnanya sudah kemerahan. Bajunya gombal. Celananya gombal. Dan ia mencangklong tas kain murahan warna hijau tua—yang tampaknya isinya juga cuma gombal.

Tanpa saya minta, ia mengumbar cerita kepada saya. Ia bilang berasal dari Sukodono, Sidoarjo, mau pergi ke Jogja, menyusul anak gadisnya yang minggat ikut pacarnya. Anak satu-satunya. Ia bilang, sudah hampir sebulan anaknya belum pulang. Bilangnya mau cari kerja di Jogja. Ia ditawari bisnis di Jogja sama pacarnya. Ia bilang seperti menggerutu, semua itu gara-gara hape.

Semenjak dibelikan hape, anaknya ke mana-mana bawa hape, makan bawa hape, ke kamar mandi bawa hape, bahkan tidur pun ngeloni hape. Sebab hape itu pula si anak kenal sama pacarnya yang tinggal di Jogja. Kenalnya lewat pesbuk atau apa namanya. Dan semenjak dapat pacar ganteng dari hape, anaknya selalu melawan kalau dikasih tahu. Disuruh bersih-bersih rumah, malas. Disuruh jaga lapak sayur di pasar, malah ngomel-ngomel. Kalaupun mau jaga, matanya terus melotot lihat hape.

Akibatnya gak ada yang mau mampir beli sayur. Akibatnya sayur-sayur busuk. Dimarahin malah ganti marah. Hapenya diminta malah marah membabibuta, bapaknya gak diajak bicara selama tiga hari, sampai dibela-belain pecah tabungan sama utang-utang duit temannya buat beli hape baru. Setelah beli hape baru malah pergi ke Jogja. Bapaknya ditinggal dhewean di kampung. Kalau ibunya masih ada pasti bakal mati berdiri lihat anak gadisnya dugal seperti itu. Untung ibunya sudah tidak ada.

Setelah terdiam beberapa jenak, dengan ragu-ragu, lelaki tua itu mengeluarkan hape dari saku celana.

Dia tunjukkan hape merek China itu kepada saya. Ia bilang, alamat pacar anaknya yang di Jogja mungkin ada di hape itu. Pasti ada di situ. Soalnya anaknya menyinggung soal pergi ke Jogja sebelum beli hape baru yang duitnya utang-utang itu.

Ia mengaku tak terlalu paham bagaimana menggunakan hape. Ia menyuruh saya menyalakan hape itu, melihat-lihat, dan mencari alamat rumah pacar anaknya. Saya balik tanya, alamat itu disimpan di mana? Dan ia balas, pokoknya alamat itu ada di dalam hape. Ia juga bilang hape itu boleh saya otak-atik.

Advertisements