Cerpen Cikie Wahab (Padang Ekspres, 04 Agustus 2019)

Kamilia ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Kamilia ilustrasi Orta/Padang Ekspres

DUA puluh tahun lalu Kamilia masih berusia tiga puluh tahun dengan lengan dan paha yang mulai mengecil setelah menyusui Radu. Setiap pagi ia sudah mengikat perutnya dan berjalan kaki menyusuri perkampungan menawarkan lemang panggang dan roti sumbu, lalu setelahnya pergi ke tukang kayu, sahabat suaminya untuk membayar cicilan bahan bangunan yang dipakai Yat membangun rumah untuk mereka.

Krisis ekonomi saat itu sudah terasa bagi mereka. Kamilia hanya perlu terus berjualan agar Nandar bisa terus bersekolah dan naik ke kelas empat sekolah dasar. Saat Radu sudah bisa duduk dan memanggil ‘amma’ pada Kamilia, Nandar menggantikan Kamilia ke tukang kayu dan meminta kerja paruh waktu untuk membayar biaya sekolahnya.

“Kalau ayahmu tidak berulah, kalian tak akan jadi begini.” Ujar tukang kayu yang bernama Palo saat Nandar disuruh mengangkut dua balok kayu di pundaknya. Hal tersebut ia adukan kepada Kamilia dan Kamilia diam saja.

“Apapun yang orang katakan tentang ayahmu, Amma ingin kau selalu di pihak ayahmu.” Suatu ketika Kamilia mendapatkan ilham untuk kata-kata ajaib itu, kata-kata yang sebenarnya iapun tak yakin.

“Memangnya apa yang ayah lakukan?” Nandar terus mempertanyakan itu dalam hatinya, sebab ia tidak ingin melihat Kamilia susah dan bersedih. Kamilia mengulas senyum dan membawa Radu bermain keluar rumah.

Keesokan harinya pertanyaan itu dilupakan Nandar. Minggu demi minggu, bulan dan tahun berganti datang. Nandar hendak naik ke kelas delapan, Nandar membuka penutup semen di bawah tangga. Di dalamnya ada celengan batu dan Nandar menarik benda itu dengan girang.

Radu berlari-lari di belakang Nandar sambil penasaran dengan apa yang Nandar lakukan. Tapi Radu lebih tertarik dengan katak kecil yang melompat-lompat dari belakang tangga. Ia berlari memanggil Kamilia dan berteriak di pintu depan. Nandar terperanjat, mendorong celengan batu kembali ke tempatnya dan bergegas mengejar arah suara Radu yang tengah menatap seorang lelaki berdiri di pintu.

“Ayah?!”

Kamilia muncul dari halaman luar. Ia gemetar juga bahagia. Yat pulang. Suaminya sudah kembali. Sebagai istri, Kamilia langsung memeluknya erat.

***