Cerpen Zaenal Radar T. (Republika, 04 Agustus 2019)

Guru Ngaji Pergi Haji ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Guru Ngaji Pergi Haji ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Beberapa tahun silam… Dalam salah satu ceramahnya, di depan jamaah ibu-ibu pengajian masjid al-Barkah tempat Ustazah mengajar ngaji, Ustazah Lilis menjelaskan, “Sesungguhnya setan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia, sebelum tujuan-tujuan yang diinginkan setan terpenuhi. Setan akan terus berusaha menjerumuskan manusia, supaya kelak di akhirat sang setan ada temannya, di neraka!”

Bu Susi, salah satu jamaah pengajian, yang memang sudah sejak lama tidak suka dengan Ustazah Lilis, menggerutu sendiri, “Yaelah bu Ustazah. Emang dia pernah lihat akhirat. Kayak pernah mati aja?” Beberapa jamaah pengajian tersentak, lalu memandang sebentar Bu Susi. Kemudian Bu Susi terdiam dan kembali menyimpak ceramah si pendakwah.

“Jamaah pengajian yang dirahmati Allah… bagaimana setan menggoda manusia sampai dia mampu menjerumuskan ke lembah dosa, itu dilakukannya terus-menerus. Setan tidak pernah berhenti menggoda sampai keinginannya terpenuhi. Kita sebagai manusia, secara tidak sadar, terus dihajar, dicecar, digoda, dirayu-rayu, dengan cara kasar atau halus, dengan berbagai cara. Semakin iman seseorang tinggi, bisikan, dan rayuan setan semakin menjadi-jadi.”

Bu Susi kembali mencibir, tapi kali ini tidak menggerutu. Ibu-ibu yang lain terus menyimak.

“Sebagai contoh nih ya, Bu… Bu… Ibuuu…?!” Ustazah Lilis ceramah memanggil ibu-ibu jamaah pengajian. Mengingat ada satu dua ibu-ibu di sudut ruangan lagi ngerumpi berdua. Ustazah memanggil-manggil ibu-ibu agar mereka semua fokus dan menyimak ceramahnya. Ini mirip cara almarhum Zaenudin Mz, ustaz kondang yang sudah almarhum. Ibu-ibu menyahut sambil tersenyum, dan merasa penasaran dengan ceramah Ustazah Lilis. Ibu-ibu yang tadi ngerumpi disudut kali ini konsentrasi ikut mendengarkan.

Ustazah Lilis melanjutkan ceramahnya, “Contohnya ya Bu. Misalkan kita berangkat haji ke Tanah Suci. Karena tidak ingin bermaksud riya, atau ingin dipuji oleh orang lain, kita lakukan secara sederhana dan tidak berlebihan. Pelepasan keberangkatan kita lakukan secara biasa-biasa saja. Setibanya di Tanah Suci, kita kagak update foto, gak pasang muka kita waktu di depan Ka’bah di medsos. Maksudnya, apa ibu-ibu, kita menghindari diri dari sifat riya, sifat ingin dipuji-puji orang lain. Tapi, apa yang terjadi ibu-ibu sekalian. Setan tidak tinggal diam ibu-ibu sekalian! Setan nggak bosan-bosannya membisiki telinga kita, ayo cepat sebarkan berita kamu ke Makkah di medsos, biar semua orang tahu kalau kamu pernah ke Mekah! Pernah shalat di depan Ka’bah, kalau perlu selfie di depan Hajar Aswad! Begitu bujuk rayu setan. Namun, karena iman kita kuat, kita mampu menahan godaan dari sang setan. Kita teguh pada pendirian untuk nggak pamer atau riya kepada orang lain.”