Cerpen Adi Zamzam (Tribun Jabar, 04 Agustus 2019)

Fatamorgana ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Fatamorgana ilustrasi Tribun Jabar

RASA haus ini masih saja berusaha mencekik leherku dan menciptakan bayang-bayang air yang melimpah di depan sana. Lantaran tak ada pilihan lain, kupaksa juga kedua kaki untuk melangkah.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, angan-anganku bahkan sudah pergi dari hamparan padang pasir yang serba panas ini. Senapan di pundak serasa hanya aksesori belaka. Tak berguna. Dan kadang justru merepotkan. Padahal sebelumnya benda itulah yang telah menyihirku menjadi superhero.

“Mereka berkali-kali mencuri makanan ternak. Sudah seharusnya kau meringkusnya. Kalau perlu memusnahkannya!” suara John setengah memekik. “Bukankah kau kubayar untuk menjaga temak-temak itu?”

Aku kembali terperosok dan jatuh berguling tatkala kedua kakiku menginjak pasir rapuh yang ternyata adalah tubir bukit pasir. Meski kedalamannya hanya beberapa meter, bagi tubuh yang sudah kehilangan banyak daya sungguh seperti jurang nan teramat dalam. Suara John pun terdengar menukik tajam. “Aku membayarmu!”

Sebenarnya kalimat itu mulanya memang mampu mencambukku. Tapi belakangan, sejak tanpa sengaja aku memergoki John dan Lydia yang berguling-guling di atas tumpukan jerami yang sebelumnya telah susah payah kukumpulkan di kandang belakang, suara bandot tambun itu sebenarnya berubah terdengar seperti embikan kambing. Pun rajukan Lydia—yang terasa seperti lintah, geli, menjijikkan, dan menyakitkan.

Andai saja rasa haus ini bisa diajak negosiasi barang sebentar. Wahai haus, apa untungnya jika kau mengambil nyawaku ini? Jadi biarkan aku naik ke bukit pasir itu lagi, naik, dan terus naik.

Terik matahari serasa seperti tatapan garang seorang jaksa penuntut umum yang mengeluarkan semua tuduhannya tanpa ampun. Sebenamya aku ingin teriak. “Cukupkan omong kosong itu! Cukup!” Tapi semuanya telanjur di luar kendaliku. Terutama rasa haus yang semakin tak tahu diri—membakar sekujur tubuhku. Dan membuat pandanganku kembali membuat dunianya sendiri. Di depan sana itu surga. Meski setiap kali kudekati semuanya tiba-tiba menghilang secara ajaib.

Tak ada siapa pun di padang pasir nan tandus ini. Tak ada. Bahkan detak jantung sendiri, hanya serupa suara semu di telinga. Yang ada hanyalah haus yang semakin bertambah-tambah, dan air di ujung pandangan yang anehnya semakin kukejar semakin menjauh.

Advertisements