Cerpen Erwin Setia (Denpost, 04 Agustus 2019)

Deo Tidak Masuk Sekolah Hari Ini ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Deo Tidak Masuk Sekolah Hari Ini ilustrasi Mustapa/Denpost

SEHARUSNYA jam tujuh pagi ini Deo sudah duduk manis di kursinya—kedua dari belakang, bagian kanan bersebelahan dengan sebuah kursi yang dibiarkan kosong. Namun, setengah jam berlalu dan bel berbunyi kursi itu masih kosong. Bu Guru mengabsen dan tak ada yang tahu kenapa Deo tak hadir.

Beberapa murid perempuan menebak-nebak: Deo kayaknya sakit, Bu, kemarin dia jatuh saat main futsal waktu istirahat; Deo mungkin pulang kampung, Bu, saya dengar-dengar dia ngomongin soal kampung setelah pelajaran mengarang dua hari lalu; Ah, paling dia bolos, Bu, biasa murid cowok kan gitu. Malas. Pendapat terakhir diutarakan Borah, siswi paling tomboi sekelas.

Bukannya urun pendapat soal absennya Deo, para murid laki-laki malah asyik mempercakapkan soal game online dan pertandingan sepakbola.

Meski tidak ada Deo, pelajaran berlangsung seperti biasanya. Pelajaran pertama hari ini adalah Matematika. Berarti dua musuh pertama hari ini, terutama bagi murid lakilaki adalah, rasa kantuk dan bosan. Matematika dan kantuk dan bosan; semua pasangan lain di dunia fana, mereka abadi.

Di rumah Deo hanya ada Bi Wiwik, asisten rumah tangga keluarga Deo. Ada acara gosip pagi ini. Sesudah beres-beres rumah Bi Wiwik menyalakan televisi. Bi Wiwik tak punya akun Instagram, kalau punya tentu ia bakal buka akun Lambe Turah. Topik gosip pagi masih sama: pernikahan artis, perceraian artis, artis terlibat kasus narkoba, hal-hal remeh-temeh kehidupan artis, dan hal-hal lainnya yang umumnya tak jauh beda dengan seonggok sampah. Dan reaksi Bi Wiwik masih sama: ada kepuasan sendiri ketika nonton artis cerai atau artis ribut atau artis yang tahu-tahu punya anak padahal belum punya buku nikah.

Beralih ke dua ruangan kantor yang dingin di dua gedung berbeda di Ibukota.

Ruangan pertama: seorang perempuan berusia sekitar pertengahan tigapuluh, berkacamata, duduk, menekuri lembaran-lembaran dan layar laptop, dan sesekali memijat kepalanya sendiri. Tumpukan berkas di mejanya itu adalah tumpukan berkas sisa hari kemarin dan beberapa sisa hari kemarinnya lagi ditambah beberapa berkas yang baru tiba hari ini. Ia harus segera menyele saikan urusannya dengan berkas-berkas itu. Tenggat waktu tinggal sebentar lagi. Kalau telat si bos bisa marah-marah. Itu kemungkinan teringan. Yang terparah si bos bisa memotong gajinya plus setelah itu ia akan dilimpahi tugas yang jauh lebih banyak sebagai bentuk sanksi atas keterlambatannya.