Cerpen Biyank Alejandra (Koran Tempo, 03-04 Agustus 2019)

Kelas Melukis ilustrasi Rizal Zulfadly - Koran Tempow.jpg
Kelas Melukis ilustrasi Rizal Zulfadly/Koran Tempo 

Seminggu setelah bercerai, ia mendaftarkan diri pada sebuah kelas melukis yang iklannya ia lihat tertempel di sebuah tiang listrik, bersebelahan dengan iklan badut ulang tahun dan sedot WC. Pengajarnya seorang lelaki enam puluhan tahun, dengan rambut jarang-jarang berwarna putih dan hanya tumbuh di tepi-tepi kepala, namun menjuntai hingga punggung. Lelaki itu bersendawa tiap dua puluh dua menit sekali, meski ia tidak baru makan. Siti Alimah risih dengan kebiasaan buruk sang guru. Namun ia bertahan di kelas itu, bersama empat perempuan dan tiga lelaki lain yang senantiasa menyimak baik-baik apa yang dikatakan sang guru. Siti Alimah menyukai cara sang guru mengajar. Dan ia, yang terakhir kali menggambar kelas 6 SD, merasa dirinya telat menyadari bakatnya.

“Coretanmu kuat dan berkarakter,” kata sang guru ketika Siti Alimah praktik menggambar pertama kali di kelas itu. Ia awalnya gemetar. Keringat terbit di keningnya. Tangannya terasa berat bergerak di atas kertas. Guru memintanya membuat lingkaran penuh dan sempurna. Nyatanya, lingkaran yang ia buat lebih seperti bola plastik penyok. Ketika sang guru mendekat ke mejanya, ia menelungkupkan badannya, menutupi kertas kerjanya. Guru itu tersenyum setelah bersendawa. Dan dengan suaranya yang pelan dan lembut, guru mengatakan bahwa Siti Alimah tak perlu malu.

“Dari awal kamu mendaftar, aku tahu ada yang berbeda darimu. Karena itulah, kamu tidak perlu malu menunjukkan gambarmu,” kata sang guru. Siti Alimah menegakkan badannya. Kertas kerjanya sedikit lungset, dan sang guru memungut kertas tersebut. Lantas keluarlah pujian yang membuat Siti Alimah merasa terbang ke surga.

Pujian pendek itu mendongkrak kepercayaan diri Siti Alimah dan mendorongnya berkarya gila-gilaan. Ia terus mencoret, menggambar, mewarnai, dan sebagainya sepanjang hari. Ia membawa kertas-kertas dan alat gambar ke rumahnya, bekerja sampai larut malam, dan tertidur menjelang subuh. Seakan tak ingin waktunya terbuang untuk hal lain, dalam tidur, Siti Alimah bermimpi menggambar. Ketika terbangun pada pukul delapan pagi, hal pertama yang dilakukan Siti Alimah adalah meraih kertas dan alat gambar yang sengaja ia letakkan di meja rias, bersebelahan dengan tempat tidurnya, dan mulai mencoret-coret. Ia akan terus sibuk dengan semesta kecilnya itu hingga terdengar azan zuhur dari masjid tak jauh dari rumahnya. Ia bangkit, mandi, makan, lantas kembali tenggelam dalam kesibukannya. Bila ada kelas—seminggu dua kali, Rabu dan Sabtu—kegiatan coret-mencoret sehabis tidur ia akhiri pukul sembilan. Lantas bersiap, dan meneruskan kegiatannya di kelas yang dimulai pukul sepuluh pagi dan berakhir pukul tiga sore.

Advertisements