Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Minggu Pagi No 17 Th 72 Minggu I Agustus 2019)

Gaun Merah Sandra ilustrasi Minggu Pagiw.jpg
Gaun Merah Sandra ilustrasi Minggu Pagi

BEL pulang sekolah berbunyi. Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas. Sementara itu, Alexa, Stevi dan Irene terlihat kasak-kusuk membicarakan acara pesta ulang tahun Mona nanti malam.Berbagai persiapan telah dilakukan, terutama Alexa. Alexa menunjukkan gaun baru yang baru saja dibelinya tempo hari bersama mamanya.

Stevi dan Irene terkesima melihat gaun itu. Pasti harganya sangat mahal. Tapi pantaslah jika Alexa mampu memiliki gaun sebagus itu. Alexa memang terkenal anak orang kayadangaya hidupnya mewah. Dia sering ke mal dan shoppingsampai yang tidak terlalu penting pun dia beli.

“Eh, kalian sudah beli gaun baru belum?” tanya Alexa seraya menatap Stevi dan Mona.

“Emm … aku kan masih punya gaun yang lama, Lexa. Jadi buat apa beli yang baru,” ucap Stevi.

“Iya, betul. Aku juga pakai gaun lama kok. Lagipula kalau setiap pesta harus beli gaun baru, itu namanya pemborosan,” timpal Irene sambil melirik Stevi.

“Alah, kalian ini sok. Biasanya juga tinggal bilang sama mama kalian, terus besok dibelikan gaun baru. Iya, kan? Pasti bukan sama uang kalian sendiri. Ngaku saja, deh!” Alexa berkata, mencibir Stevi dan Irene.

Di sela-sela obrolan, tiba-tiba mata Alexa tertumbuk pada Sandra yang masih membereskan buku-buku ke dalam tas. Sandra belum keluar dari kelas karena tadi dia ketinggalan mencatat, karena memang Sandra adalah sekretaris kelas. Jadi wajar saja kalau dia sering pulang agak terlambat.

“Eh, teman-teman, kalian dengar, ya. Si anak pisang goreng itu mana mungkin punya gaun bagus kayak kita, jadi pasti dia tidak bakalan hadir nanti malam!” ejek Alexa mati-matian.

Sandra yang mendengarnya sedikit tersentak, namun tidak dihiraukan olehnya. Sebagai gantinya, dia tersenyum membayangkan gaun cantik yang akan dia kenakan nanti malam.

***