Cerpen Irfan Hasibuan (Analisa, 31 Juli 2019)

Sepucuk Mawar untuk Nisa ilustrasi Alwi - Analisaw.jpg
Sepucuk Mawar untuk Nisa ilustrasi Alwi/Analisa

YA ALLAH! Sekedip mata kemudian ia terkejut. Hatinya terhenyak kala mendengar sesuatu hal yang terjadi pada dirinya. Ia hanya terpaku di atas kursi roda sembari tetesan air mata menyeruak tumpah di kedua pahanya. Tersendu, hatinya terpukul pilu berdebu-debu di kalbu. Ia tidak tahu apa yang harus dipikirkan dan di malam itu juga denyut jantungnya hampir pecah kala mendengar orang yang paling dia sayangi telah pulang untuk selamanya.

***

Bergerombolan air semesta tumpah dari langit. Pagi ini semesta lagi bersedih, petir menyambar-nyambar melukai pepohonan, daun juga dirinya. Angin bertiup kencang, menghembus rinai air pergi menjauh dari guratan wajahnya. Di teras rumah ia duduk termangu di kursi roda sembari menatap air yang riang tumpah ke bumi. Sesekali ia melebarkan garis bibirnya, sesekali juga garis bibirnya mengecil kala mengingat masa lalunya di antara balik rintik hujan.

Kecelakaan mobil setahun yang lalu itu telah membuat kakinya tidak bisa lagi digerakkan. Ia lumpuh dan seluruh hidupnya dihabiskan di kursi roda. Ke mana pun ia bergerak hanya kursi roda membantu dirinya. Sudah hampir satu jam ia termangu di teras tanpa kata, hujan semakin melunak di dadanya.

Di dalam rumah, suara seorang perempuan memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang dan menyahut panggilan itu. Ibunya keluar dari dalam rumah. Di tangan ibunya tergenggam sebuah telepon, ibu menyerahkan telepon genggam kepadanya.

“Nisa ini ada telpon dari Mawar.” Ibu menjulurkan tangan yang menggenggam telepon untuk diraih Nisa.

“Telpon dari Mawar, Bu. Ada apa gerangan ia menelponku, Bu.” Ia mengambil telepon dari tangan ibunya.

“Ibu tidak tahu, Nisa. Katanya, ia mau ngomong sama kau.”

“Oh ya udah, Bu. Makasih ya.”

“Iya, Nisa. Ibu masuk ke dalam ya. Mau masak dulu.”

“Iya, Bu.”

Ibu masuk ke dalam rumah meninggalkan Nisa sendirian di teras rumah. Nisa merasa heran kenapa tiba-tiba Mawar menelpon dirinya setelah setahun terakhir ini Mawar menghilang. Bahkan, saat Nisa dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan pun Mawar tidak menunjukkan batang hidungnya walaupun itu satu hari.

Manusia tetaplah manusia yang selalu saja sama dengan sifat hatinya. Ia tidak menghiraukan masa-masa itu, bagi dirinya persahabat adalah hal yang paling valid dalam hidupnya. Maka dari itu ia membuang semua yang menyangkut permasalahan hidup dengan sahabatnya. Ia sesegera mengangkat telpon dari Mawar sebelum sambungan telpon itu terputus.

Advertisements