Cerpen Ongky Arista U.A. (Rakyat Sultra, 29 Juli 2019)

Ladang Kosong Kubur Ingatan ilustrasi Istimewa.jpg
Ladang Kosong Kubur Ingatan ilustrasi Istimewa

Berpetak-petak tanah yang kosong di depanku ini, telah lama menjadi kuburan bagi segala ingatan tentang tanaman musim penghujan. Bahwa beberapa tahun silam, orang-orang di Pulau Raja ini, tak pernah sukar bercocok tanam pada sepetak tanahnya, kendati hanya dapat menanam jagung sebagai tanaman pokok, dua kali pada musim hujan setiap tahunnya.

Pada masa yang silam itu, tak ada rona ambisi menjadi kaya yang terjahit pada setiap wajah orang di kampung-kampung Pulau Raja selain bersahaja dengan tanam-menanam jagung dan kacang-kacangan pada sepetak tanah itu. Kata ayah, orang hidup dahulu kala berkaca pada tanah. Dan pada silam itu, musim penghujan sama dengan seruan langit untuk menanam, dan menanam sama dengan berkaca diri kepada tanah yang suatu saat akan menjadi liang lahat.

“Kau ke rumah Pak Sup, sampaikan di sini kita akan menanam,” perintah ayah silam itu. Aku segera menuju rumah Pak Sup. Setelah menyampaikan pesan itu, Pak Sup segera mengeluarkan sepasang sapi betina miliknya dari kandang beserta sebuah tenggala.

“Lelaki kampung wajib tahu cara menenggala,” kata Pak Sup sambil menuntun sepasang sapinya menuju rumahku. “Itu ciri khas kita yang paling pokok—tahu cara menenggala.”

“Saya tidak kuat memegang tenggalanya, Pak,” keluhku.

“Cukup paham cara tali kendali sapi bekerja, tenggalanya akan berjalan sendiri menggembur tanah.”

“Mudah sekali jika begitu,” jawabku.

“Yang sulit itu menghubungkan perasaan!”

“Perasaan?” aku segera mengernyitkan dahi.

“Ya, kau dan sepasang sapi yang akan kau kendalikan.”

Pada musim penghujan, pada tanah-tanah kampung Pulau Raja yang tak banyak ditumbuhi sumber air, pohon-pohon segera mengakhiri kepedihannya melawan keluruhan. Daun-daun milik segala macam pohon segera dapat menjadi hijau. Ranting-ranting baru segera menyembul merimbuni dahan. Sapi-sapi di kandang dapat segera menjadi gemuk menikmati musim daun. Kambing-kambing ikut berpesta daun bambu, lamtoro, mimba, waru, dan pucuk tanaman jagung pula daun kacang-kacangan. Ayam-ayam dikandangkan di pekarangan belakang rumah dan mendapat nikmat makan jagung hasil panen musim sebelumnya.