Cerpen Nermi Silaban (Padang Ekspres, 28 Juli 2019)

Setandan Pisang untuk Nenek ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Setandan Pisang untuk Nenek ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

DI JALAN MENDAKI anak itu tertahan sebentar, menghela napas, menjinjing kantung plastik berisi rempah-rempah, cabai keriting, dan ikan asin kering yang bau amisnya meruap hingga ke hidungnya. Siang itu ibunya menjemput ke sekolah sekalian mengajaknya ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur selama satu minggu. Dari sebentang jalan landai di sisi kanan persimpangan itu, dia melihat orang-orang di kejauhan, sedikit mengecil dari ukuran dewasa biasanya, keluar masuk di sebuah rumah. Para ibu rumah tangga, anak-anak, dan pemuda setempat tergopoh-gopoh turun, ada yang menggendong bayi, lainnya beriringan dalam perbincangan yang riuh. Saat berpapasan salah seorang menerangkan keadaan di seberang sana kepada ibunya, dia sayup-sayup mendengar dan pandangannya beralih dari rumah itu ke ibunya berkali-kali.

“Ada apa di sana, Bu?”

“Tidak ada apa-apa.” Ibunya mendekat, lalu menarik lengannya. “Ayo, kita pulang!”

Selagi menuju rumah mereka saling diam, hanya engahan napas dan bunyi kertakan batu di bawah sol sepatu. Sudah bertahun-tahun tak ada pengaspalan jalan di kompleks militer itu, seolah-olah sengaja dibiarkan ala kadarnya batu-batu kerikil yang mencuat di tanah. Mereka baru sebulan mengontrak rumah tipe 36, milik seorang Sersan. Hampir setengah perumahan disewakan oleh para pemiliknya, selebihnya dihuni para pensiunan, dan satu dua rumah di setiap deretan blok kandas digerogoti rayap, melompong kosong ke belakang tanpa daun pintu dan jendela, cat kapur pada dinding-dindingnya pun memudar, tinggal naungan alang-alang rimbun dan kesepian yang bertahan di situ.

Mereka sejenak mengaso di teras rumah, dia lalu masuk, menaruh semua kantung belanjaan di meja dapur dan kembali ke samping ibunya, meletakkan teko berisi air setengah dan dua cangkir kaleng dari kait jari-jarinya. Sehabis dua tegukan ibunya melengos ke dapur, dia pun menyalin seragam putih merahnya di kamar, menyurukkan baju kaos dan celana pendek yang belel, tapi agak ragu keluar rumah dengan menenteng kaleng biskuit yang berderak karena butir-butir kelereng. Meski ibunya memunggunginya ia langsung dihadang pertanyaan.

“Mau ke mana?”

“Aku boleh main di luar, Bu?”

“Tapi jangan ke bawah, ya!” Ibunya menegaskan.

Advertisements