Cerpen Bagus Sulistio (Banjarmasin Post, 28 Juli 2019)

Pistol ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Postw.jpg
Pistol ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post

Sudah lama pria itu tak mengunjungi tempat ini. Ia bertubuh besar dan kekar. Memakai seragam polisi membuat ia bertambah sangar. Tapi ia tak berani mengunjungi rumah ini sendirian. Ia hanya berdiri di depan gerbang tanpa melakukan apapun. Perlu nyali besar untuk ke sini. Sebenarnya apa yang ia takutkan? Rumah ini tidak kosong, ada manusia yang menghuninya. Rumah ini tidak kotor, bersih bahkan tak ada sarang laba-laba di sana. Lalu apa yang membuatnya sangat enggan ke sini?

***

Dua puluh tahun yang lalu, seorang anak kecil sangat senang bermain di halaman rumah ini. Setiap sore hari ia selalu bermain sepakbola bersama kakaknya. Bukan hujan yang dapat menghentikan permainan itu. Hujan malah menambah kegirangan anak kecil itu. Hanya matahari tenggelam yang membuatnya kembali masuk ke rumah.

Walaupun malam datang dan ia ada di dalam rumah, masih banyak hal yang dapat membuatnya ceria. Mainan yang begitu beragam, acara TV yang menghibur dan keluarga yang sangat baik kepadanya. Ia tak pernah kekurangan perhatian dari keluarganya. Apa yang ia minta pasti akan diberikan.

“Ayah, beliin aku pistol dong,” pinta anak kecil itu sambil menempelkan badannya yang mungil ke ayahnya.

“Emang pistol itu buat apa, Rio? Rio mau main polisi-polisian?” tanya Ayahnya

Anak kecil itu hanya mengangguk. Walaupun anak kecil tak menjawab pertanyaan Ayahnya, keesokan harinya sebuah pistol mainan ia dapatkan. Pistol tanpa peluru ini selalu ia bawa kemana-mana. Saat mandi ia bawa, saat tidur ia bawa pula. Ia sangat mencintai pistol ini sebagaimana mencintai orang yang memberi pistol ini.

Saban sore yang biasanya anak kecil itu bermain bola. Saat ia mempunyai pistol, ia pindah haluan bermain tembak-tembakan. Berkhayal menjadi polisi yang hebat. Menangkap penjahat-penjahat imajinasinya. Terkadang kakaknya yang sedang diam, ia tangkap dan ditembak.

Hingga suatu malam, ia tak kunjung tidur karena asik berkhayal. Rumah dan kamar yang saat itu sudah gelap gulita tak membatasi pikirannya. Berjelajah dalam dunianya sendiri. Hingga ia merasa lelah dan timbullah rasa haus. Anak kecil itu kemudian keluar kamar mencari apa yang dibutuhkan.