Cerpen Tin Miswary (Serambi Indonesia, 28 Juli 2019)

Para Penganggur ilustrasi Serambi Indonesiaw.jpg
Para Penganggur ilustrasi Serambi Indonesia

SUDAH hampir dua puluh tahun tidak ada penerima zakat di kampung kami, kecuali aku dan dua temanku. Ketika musim panen tiba, berton-ton zakat dari padi sampai ternak sering kali diekspor ke luar kampung setelah sebagian kecil dibagikan kepada kami yang tidak pernah habis kami makan sampai panen berikutnya. Orang-orang kampung kami tidak mengenal istilah kemiskinan dan bahkan kata-kata itu tidak pernah terucap sejak dua puluh tahun terakhir. Jika pun kemiskinan itu ada, maka kamilah orangnya.

Kecuali kami bertiga, semua warga kampung ini adalah pekerja keras yang cukup rajin. Sebagian warga kampung memiliki sawah minimal satu hektar perkepala keluarga. Sebagian lainnya yang tidak suka bertani memilih menjadi peternak, mulai dari ayam, itik, kambing, lembu sampai kerbau. Masing-masing mereka memiliki ternak puluhan sampai ratusan ekor. Selain petani dan peternak kaya, sebagian warga kampung kami juga menjadi pejabat penting dan pedagang besar di kota.

Tidak hanya areal sawah yang luas, di kampung kami juga terbentang padang rumput yang hijau. Konon padang rumput itu milik Ampon Gani, leluhur kampung kami. Padang rumput itu boleh dipakai siapa saja sampai langit digulung. Di padang rumput itulah segala ternak bermain dengan riang, bahkan sambil bercinta sesamanya. Sementara si gembala kaya memantau dari tepi sungai agar binatang berkaki empat itu tidak keluar kampung. Hewan-hewan itu dilepas ketika matahari sedikit meninggi dan akan kembali pulang ketika senja datang menyapa.

Tidak jauh dari padang rumput itu juga terhampar tanah luas, tempat ayam dan itik dikurung dalam kandang besar. Di tempat ini terdengar beragam suara, dari itik yang saban hari merepet sampai teriakan ayam yang tak henti berkokok. Di sini tidak ada musang, cerpelai apalagi biawak sehingga ayam dan itik bisa hidup nyaman sebelum akhirnya mati di mata pisau.

Apa yang aku ceritakan itu hanya sedikit dari kemegahan dan kemakmuran kampung kami. Ada banyak cerita manis lainnya yang enggan kukabarkan pada kalian, sebab cerita-cerita itu sama sekali tidak membuat aku dan dua temanku bahagia.

Meskipun kemegahan dan kemakmuran kampung kami terdengar sampai ke seberang Selat Malaka, namun aku dan dua temanku tetap saja dianggap sebagai benalu di kampung ini. Aku yang sering dipanggi si Yoeng dan dua temanku; si Beut dan si Beunu telah dicap sebagai pengangguran abadi di kampung kami. Hampir tidak ada seorang pun yang mau menyapa kami bertiga, kecuali pada acara pembagian zakat, itu pun hanya panggilan bernada sadis supaya kami segera mengangkut jatah zakat agar tidak menumpuk di meunasah. Ada pun ratusan tumpuk lainnya akan diangkut ke kampung seberang.

Advertisements