Cerpen Ahmad Anif Alhaki (Denpost, 28 Juli 2019)

Nenek Gosem Ingin Membunuh Sengkuni ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Nenek Gosem Ingin Membunuh Sengkuni ilustrasi Mustapa/Denpost

Setelah semua keluarganya tewas dibunuh,

ia menjadi ganas dan pemarah.

Kalau ada Sengkuni,

ia akan mencaci-maki.

Kadang-kadang ia berhasrat sekali ingin membunuh Sengkuni:

begitulah keadaan Nenek Gosem saat ini.

Nenek Gosem saat ini telah menjadi perempuan pemarah. Ia tidak mampu lagi mengendalikan diri apalagi menahan diri. Kalau ada Sengkuni, ia akan naik pitam sendiri, ia akan mencaci-maki Sengkuni itu dengan bahasa-bahasa kasar. Kini Nenek Gosem sudah menjadi perempuan nekat dan pemberani.

“Sengkuni bangsat!” tiba-tiba Nenek Gosem berteriak ketika ia melihat sebuah mobil hitam melintas di depan rumahnya.

Aku tercengang melihat kejadian itu karena mobil hitam tersebut adalah mobil Pak Bruno, si pemilik tambang pasir di desa kami. Kamu tahu apa yang dilakukan Nenek Gosem terhadap mobil itu? Nenek Gosem melempar mobil hitam Pak Bruno dengan batu. Kaca mobil tersebut retak sehingga orang di dalamnya sempat ingin keluar. Pada saat mobil itu berhenti, Nenek Gosem malah semakin menjadi-jadi, ia mengambil parang ke dalam rumahnya dan kemudian berlari mengejar ke arah mobil milik Pak Bruno. Namun, ketika Nenek Gosem sudah dekat, mobil hitam itu malah tancap gas meninggalkan tempat kejadian.

“Sengkuni bangsat!” ulangi Nenek Gosem ketika melihat mobil hitam itu tancap gas meninggalkan dia. Kamu pasti bertanya-tanya, apa hubungan antara Pak Bruno dengan Sengkuni?

Berdasarkan keterangan dari warga, Nenek Gosem mendapatkan kelainan psikologis setelah suami dan tiga orang anak laki-lakinya mati terbunuh. Nenek Gosem mengetahui kalau suami dan anak-anaknya itu dibunuh oleh pereman-pereman bayaran dari pihak tambang pasir. Oleh karena itu, tanpa alasan yang jelas, kemudian Nenek Gosem menamai semua pihak tambang pasir di sini dengan nama Sengkuni. Padahal, dalam pemahamanku sendiri, Sengkuni itu lebih cocok untuk orang yang mengadu domba demi kepentingan diri sendiri. Tapi aku benar-benar tidak bisa mencampuri persoalan ini karena nama Sengkuni tersebut dilabeli oleh Nenek Gosem kepada pihak tambang untuk mengekspresikan kemarahannya.