Cerpen Arswendo Atmowiloto (Kompas, 28 Juli 2019)

Monolog si Kembar Setelah Menyebar ilustrasi Aminudin Th Siregar - Kompasw.jpg
Monolog si Kembar Setelah Menyebar ilustrasi Aminudin Th Siregar/Kompas

Ia yang diingat sebagai yang lebih tua, meluncur lembut di cairan berbentuk seperti agar-agar, untuk mendekat ke Dia yang lebih muda dilihat dari bentuknya, yang walau sejatinya mereka ini kembar, walau sebenarnya tak ada yang menyebar.

“Aku mencarimu.”

“Ah kamu, kamu bisa menemui siapa saja seperti saya, dan akan mendapat jawaban yang sama.”

“Aku senang bisa mengenalimu secara pribadi seperti ini.”

“Untuk itu saya ucapkan terima kasih. Basa-basi yang kalian sukai.”

Ia merasa kalimat itu sedikit menyanjung, tapi juga merendahkan. Dia tak menganggap perlu ucapan terima kasih. Dia tak mau mengerti basa-basi. Pantas saja selama ini Dia dikenal sebagai pembawa sakit yang menyiksa sampai puncak, dan ini dilakukan di mana saja Dia berada. Di semua bagian dari tubuh: di paru-paru, di payudara, di pipi, di perut mana saja, di belakang yang tak terjangkau pisau pengamat yang pertama mencarinya. Dan Dia melakukan kapan saja, tiba-tiba dan sesukanya.

Ia tak bisa menahan kemarahannya, dan membiarkan diri mencari menjadi bagian yang murka, yang diperlakukan tidak adil, yang lebih mengental di beberapa bagian.

“Kamu siksa orang baik-baik, yang menjadi tulang punggung keluarga, yang mengayomi banyak saudara, banyak teman dan memberi pekerjaan, para pengangguran yang menemukan pahlawan, menemukan rasa bersyukur, seorang yang baik hati. Dalam sekejap, semua lenyap. Lelaki tadinya tabah, gagah, menjadi penggelisah cengeng kala menghendaki obat pengurang nyeri. Bukan hanya sosoknya, melainkan sosok istrinya yang tadinya ceria, tiba-tiba tertekuk, cemberut, seakan isi dalam tubuhnya telah dikocorkan setiap saat di malam hari. Semua ketabahan, kegigihan, harapan telah diompolkan semalam sampai tetes penghabisan.”

Kalimatnya parau sejak permulaan, dan makin parah semakin kemauan bicaranya menggebu. Dan semuanya tercurah sudah. Semua tertumpahkan pada lengkingan. Dan diperjelas meskipun tak begitu perlu.

“Kenapa kamu pilih lelaki yang baik, suami yang penuh tanggung jawab untuk anak, istri, keponakan… dan bukan yang lain, yang juga di rumah itu.”