Cerpen Sam Edy Yuswanto (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2019)

Mbah Karjo ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Mbah Karjo ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SETIAP makhluk yang bernyawa pasti akan bersua ajalnya. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, semuanya akan meregang nyawa bila jatah usia mereka di dunia ini telah habis. Meski kematian adalah sesuatu yang niscaya, tetap saja selalu menyisakan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkannya. Sebagaimana yang dirasakan mayoritas warga kampung Rejosari hari ini. Mereka masih belum percaya bila Mbah Karjo, sosok yang selama ini dikenal berperilaku baik telah menghadap Ilahi.

Pagi ketika warga yang tengah bersiap dengan aktivitas masing-masing, mereka begitu terkejut saat lelayu atau berita kematian menguar dari corong masjid dan musala. Begitu mendengar nama Mbah Karjo disebut, mereka langsung bergeming. Tak percaya bahwa sosok yang selama ini dikenal baik itu telah wafat. Meski usianya sudah sepuh, tahun ini menapaki angka 68, tetap saja mereka masih belum memercayai bila Tuhan telah memanggilnya.

Wariman, pemuda jalanan yang kesehariannya hobi bikin ulah dan mabuk-mabukan, adalah satu dari sekian banyak warga yang merasa kehilangan dengan sosok Mbah Karjo.

“Mengapa orang baik seperti Mbah Karjo meninggal lebih dulu? Kenapa tidak aku saja yang bergelimang dosa, ya Allah,” Wariman terisak saat mendengar kabar kematian Mbah Karjo, sosok yang dua hari lalu memergokinya di gardu dan membuatnya tersadar bahwa arak adalah jenis minuman yang pada hari akhir nanti akan mencelakakannya.

Selama ini, telah banyak orang yang menasihati Wariman agar berhenti mabuk-mabukan. Termasuk kedua orangtuanya yang sudah angkat tangan karena nasihatnya hanya masuk telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri Wariman. Saat itu ia sedang bersiap menenggak botol arak murahan di tangan, tapi urung ketika Mbah Karjo tiba-tiba datang mengampiri.

Mulanya Wariman marah besar karena Mbah Karjo mengganggu ritual busuknya itu. Tapi setelah Mbah Karjo menyerahkan uang seratus ribuan dua lembar dan meminta botol minuman itu sebagai gantinya, ia pun lebih memilih uang tersebut. Pikirnya, uang itu bisa untuk beli minuman lebih banyak lagi.

Saat Mbah Karjo melangkah pergi, wajah Wariman mendadak pucat pasi ketika menyaksikan kejadian luar biasa yang akhirnya membuat ia sadar dan ingin bertobat. Tanah kering di sebelah gardu yang barusan basah akibat disiram dengan minuman keras oleh Mbah Karjo, tiba-tiba berubah memerah dan mengeluarkan percikan api yang makin lama kian membesar. Lari tunggang langgang ia saat menyaksikan kejadian aneh bin ajaib itu. Setiba di rumah, orangtuanya lebih kaget lagi saat menyaksikan Wariman mengenakan sarung dan memohon izin untuk pergi ke masjid.

Advertisements