Cerpen Kak Ian (Pontianak Post, 28 Juli 2019)

Hikayat Kunang-kunang di Kepala Seno ilustrasi Pontianak Postw.jpg
Hikayat Kunang-kunang di Kepala Seno ilustrasi Pontianak Post

Senja mulai berwarna kemerahan saat Seno membawa belut-belut hasil dari pemburuan di sawah. Ia berlarian dengan riang. Bertelanjang kaki dan dada, ia pulang ke rumah. Ia ingin memberitahukan kakeknya jika sore itu hasil tangkapannya cukup banyak. Belut-belut hasil tangkapannya sudah ada di genggamannya dan sebagiannya ditaruh di dalam botol plastik transparan. Tampak binatang yang berlendir itu sedang mengulet-ulet.

Setiba di rumah, usai dari sawah Seno tidak melihat kakeknya itu berada di beranda. Hanya tampak ibunya saja— dengan tatapan tajam—yang menunggu. Siapa yang tidak geram jika melihat seorang anak pulang dengan seluruh tubuhnya dipenuhi lumpur sawah?

Seno yang mengetahui kakeknya tidak berada di rumah ia langsung lunglai. Akhirnya hempas sudah harapannya untuk mendapatkan buku dongeng sebagai hadiah untuknya. Apabila ia bisa mendapatkan belut lebih banyak seperti yang dijanjikan oleh kakeknya itu. Tapi saat itu ia malah berhadapan dengan ibunya yang sudah berkacak pinggang.

“Kakek mana, Bu?” Tanya Seno setiba di rumah.

Ibu yang ditanya membisu. Sesekali menahan napas. Itu ia lakukan agar amarahnya tidak langsung terluapkan kepada anak laki-lakinya yang semata wayang. Ia lebih baik berdiam saja sejenak.

“Ibu kok ditanya diam saja sih?” Seno kembali bertanya.

“Kakek tidak ada di rumah! Ia dipanggil kades barusan saja. Entah perlu apa kades pada kakekmu itu ibu tidak tahu,” ucap ibu. “Sekarang lupakan kakekmu itu! Tinggallah kamu menerima hukuman dari ibu.”

Belut yang ada di genggaman tangan Seno kini lepas. Pun yang berada di dalam botol plastik mendadak ikut terdiam. Tidak terlihat ada pergerakan. Mungkin belut-belut itu kejang saat mendengarkan ucapan ibu yang begitu meninggi. Entah.

Tanpa banyak bicara Seno bergegas, masuk ke kamar mandi. Sebelumnya ia sudah diultimatum oleh ibu. “Seminggu ini kamu sepulang sekolah ibu ingatkan kamu tidak boleh  bermain apalagi mencari belut-belut itu. Ini hukuman untuk kamu!”

Seketika itu senja tampak lesu. Halnya dengan anak laki-laki berusia tujuh tahun itu. Lagi-lagi apa yang ia inginkan dari kakeknya pun sejenak dilupakannya.

***

Advertisements