Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 28 Juli 2019)

Balada Bayang-bayang ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Balada Bayang-bayang ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

PERASAAN bosan ini tumbuh ketika si Bayang-bayang melihat sang Tuan yang kelakuannya mendadak berubah seperti maling. Ketika menggarap berkas-berkas di tempat kerja, dia kerap celingak-celinguk, apa lagi jika mendapatkan telepon dari seseorang yang amat membutuhkan jasanya untuk mendapatkan tender. Jelas, itu adalah sebuah telepon rahasia lantaran nada bicara yang terdengar begitu hati-hati dengan irama terjaga.

“Itu dana partai. Aku tak boleh lengah. Jadi kau jangan mericuhiku dengan aneka keluhanmu,” ujarnya, menepis riuh mulut istrinya yang coba berdekat-dekat setelah tahu bahwa suaminya sedang pegang uang besar.

“Aku kan hanya berandai-andai. Sebagai istri, bukankah wajar jika meminta kepada suami?”

“Iya, memang wajar. Kau kan juga tahu, aku masih punya banyak utang untuk beli ‘mahar’ dan beli ‘tiket’. Sebentar lagi juga butuh banyak biaya operasional untuk kampanye. Apa kau ingin karirku begini-begini saja?”

Si istri langsung ngambek. Dia tak lagi merasa jadi istri. Dia merasa telah jadi babu. Minta pulanglah dia ke rumah sang ibu. Akhirnya sang suami tak mampu melawan kuasa cinta. Lagipula, setelah dipikir-pikir, bukankah dia punya banyak kesempatan? Dia rasa hanya butuh sedikit kesempatan dan keberanian untuk mencari celah. Dia juga bisa membuat semacam ‘bendungan’ agar para pengejar tender mendatanginya demi mengambil ‘kunci’ untuk mengalirkan sungai uang. Kunci yang hanya bisa ditebus dengan uang pula.

Sejak saat itulah si Bayang-bayang melihat banyak perubahan perilaku tuannya. Lamun dan gelisah adalah dua hal yang kerap menawan tuannya. Gampang marah jika ada kesalahan kecil yang merugikan, susah tidur, dan entah mengapa dia kerap memandangi bayang-bayangnya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan yang tak disukai si Bayang-bayang lantaran dia jadi merasa diragukan sebagai seorang teman.

Rasa bosan kemudian mendatangi si Bayang-bayang. Dia bosan hanya bisa melihat dan menyimpan banyak rahasia sang Tuan. Dia bosan dicurigai dan dia amat bosan menjadi pengikut yang selalu diabaikan. Di ujung rasa muaknya, si Bayang-bayang akhirnya pun mengambil keputusan itu. Dia pergi meninggalkan sang Tuan.

Mulanya si Bayang-bayang sempat kebingungan setelah lepas dari tuannya. Dia merasa seperti telah kehilangan kepala. Sempat tebersit keinginan menjadi pengikut orang lain saja. Seperti yang kita tahu, setiap orang hanya memiliki satu bayangan. Lagipula, bayang-bayang mana yang mau berbagi tuan?

Advertisements