Cerpen Gita Ananda (Analisa, 24 Juli 2019)

AMINAH ilustrasi Alwi - Analisaw.jpg
AMINAH ilustrasi Alwi/Analisa

Suara-suara itu terus tidak bisa dihentikan. Suara itu terdengar begitu jelas di kedua telinganya. Seperti berteriak tepat di telinganya. Seberapa sering ia menutup telinga tidak membuat suara-suara itu menghilang. Suara-suara itu sudah terdengar sejak dua hari yang lalu. Sejak ia mengantarkan seorang bayi perempuan ke panti asuhan.

“Selalu sehat nak, dan tumbuhlah dengan baik.”

***

Aminah hanyalah seorang wanita paruh baya yang tinggal seorang diri di sebuah gubuk kecil di pinggiran desa. Suaminya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Ia memiliki dua orang anak laki-laki dan satu orang perempuan. Semua anaknya sudah menikah dan merantau ke kota meninggalkannya seorang diri. Ketiga anaknya sudah sangat jarang mengunjunginya, bahkan untuk memberitahu kematian sang suami Aminah kesulitan untuk menghubungi anak-anaknya. Ia tidak tahu harus mengabari ke mana. Terakhir kali ia bertemu dengan anak-anaknya sudah sepuluh tahun yang lalu. Ia hanya bisa berharap anak-anaknya selalu sehat dan suatu hari nanti mereka akan datang menjenguk dirinya. Aminah sangat penasaran dengan  kabar ketiga anaknya, apakah mereka sehat? Apa ia memiliki cucu? Sudah berapa cucu yang ia miliki? Aminah sangat penasaran tentang hal itu.

Usia Aminah yang sudah tidak muda, membuatnya kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari. Aminah sudah tidak mampu berjalan jarak jauh dengan kaki kirinya yang sedikit pincang. Membuatnya tidak bisa pergi jauh. Aminah hanya bekerja menjadi buruh cuci di sekitar rumahnya. Setiap harinya ia akan pergi ke rumah-rumah tetangga yang membutuhkan tenaganya. Tak jarang pula tetangganya yang menghampirinya untuk memberikan setumpuk cucian kotor untuk ia cuci di rumah.

Hari ini berjalan seperti biasanya. Aminah segera pergi ke beberapa rumah tetangga setelah melaksanakan sholat Subuh dan membaca beberapa ayat al-Quran. Dengan keadaannya yang pincang membutuhkan cukup banyak waktu untuk bepergian walaupun jarak yang ia tempuh tidaklah jauh, ia juga membawa banyak tumpukan pakaian kotor yang siap ia cuci di rumah. Ya, Aminah mencuci semua pakaian kotor itu di rumahnya.

Dengan keringat yang membasahi kerudungnya dan pakaiannya, Aminah berjalan tertatih menuju rumahnya. Terdengar suara asing dari rumahnya. Rumah yang biasanya kosong ketika ia pergi, kini bersuara. Aminah mempercepat langkahnya untuk memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Ia mendengar suara tangisan bayi.