Cerpen Pangga Rahmad (Rakyat Sultra, 22 Juli 2019)

Dukun Palsu ilustrasi Istimewa.jpg
Dukun Palsu ilustrasi Istimewa

“Anak itu terlalu keras kepala,” kata Ma Imin perihal Jaka Mardio di sebuah pagi yang murung. Entah ia tujukan kepada siapa, tetapi semua orang juga tahu ia memang keras kepala terutama yang dimaksudkan Ma Imin: Jaka Mardio begitu percaya kepada dukun. Bahkan seyakin orang-orang saleh perihal surga dan neraka, dan baru kali ini pula Ma Imin angkat bicara perihal Jaka Mardio, sebab tampaknya ia kini sungguh-sungguh dibikin jengkel karena anak yang ia sebut keras kepala itu menghilang sejak pagi tadi setelah salah seekor sapi yang dipeliharanya hilang dari kandangnya subuh tadi. Sebagaimana diketahui, sapi yang hilang itu milik Ma Imin belaka, demikian entah mengapa Jaka Mardio dipilihnya untuk memelihara sapi-sapi itu.

“Tenang saja,” kata Jaka Mardio kepada Ma Imin sebelum ia menghilang, “cepat saja aku akan membawanya kembali.”

“Kau akan ke mana?”

“Ke tempat Taweo.”

***

Jaka Mardio sebetulnya dikenal baik, Ia anak muda yang riang dan rajin serta jujur, barangkali karena itu pula ia dipilih Ma Imin untuk memelihara sapi-sapinya. Bahkan gadis-gadis desa ada suka kepadanya, dan tentu, itu terlepas dari kepercayaannya dengan dunia mistis, terutama dukun. Sering gadis-gadis desa menemukan diri mereka menulis dan mengirim surat cinta untuknya, sebelum berkata menyesal sebab Jaka Mardio memberi syarat agar mereka mau memercayai dukun, atau sekali waktu mereka akan menulis namanya di buku harian sebab merasa beruntung terlahir di bumi ini dan bertemu dengannya, atau mengenalnya, sekalipun untuk memilikinya adalah soal yang berbeda.

Sebelum ini, banyak orang bilang, itu bukan kesalahannya memercayai dukun, sebab ia memang dibesarkan dalam lingkungan tersebut, terutama mendiang kakek dari kakeknya dikenal sebagai dukun termasyhur—yang dalam banyak kasus diketahui tak pernah meleset jika membaca harta benda berharga atau semisalnya hilang, atau katakanlah si pemilik benda berharga lupa menaruhnya di mana, atau karena benda berharga tersebut dicuri orang.

Akan tetapi seiring zaman berubah, ketika orang-orang mulai mengenal hal-hal baru atau diperkenalkan dengan hal-hal baru—yang banyak orang menyebutnya sebagai sesuatu yang modern, sekali waktu seorang warga berkata kepadanya, hanya orang bodoh yang meyakini seperti yang kauyakini. Jaka Mardio tak marah. Ia malah ketawa. Dan berkata, apa bedanya dengan kalian yang meyakini ada surga dan neraka?

Advertisements