Cerpen Khairul Umam (Suara Merdeka, 21 Juli 2019)

Ular yang Menggigit Ibu ilustrasi Suara Merdekaw
Ular yang Menggigit Ibu ilustrasi Suara Merdeka

Tiga malam lalu, Ibu digigit ular. Kaki kanannya membengkak dan kaku. Segera dia dilarikan ke pawang ular di Pinggir Papas yang terkenal ampuh menjinakkan berbagai macam ular dan racun yang kadung merasuk ke tubuh manusia. Tak peduli jalan rusak, tak peduli anak perempuannya hamil, tak peduli cuaca malam berembun tebal. Mobil laju dan tangkas. Semua demi keselamatan Ibu.

Ayah membopong Ibu memasuki gang sempit di antara geriap air tambak dan percik cahaya lampu rumah yang berdempetan membentuk pemandangan rumah apung. Akhirnya kami sampai. Kiai Dullah hanya tersenyum tipis sambil memandangi wajah Ibu yang meringis. Dia duduk menyimpuh, menundukkan kepala seperti hendak sujud.

Dia melekatkan bibir yang lebam oleh rokok ke kaki Ibu yang bengkak. Dia isap kuat-kuat bisa ular di kaki Ibu. Ibu meringis. Kiai Dullah menggerak-gerakkan betis dan punggung perlahan, tetapi terasa begitu kuat. Beberapa menit pemandangan itu tak berubah. Wajah Ibu makin pias. Otot-ototnya menegang. Kiai Dullah gemetar dan menerjang-nerjang. Mereka berdua seperti sedang bergulat dengan sesuatu yang teramat berat dan kuat. Bulir-bulir keringat mereka menetes seperti kilauan air tambak terkena pantulan cahaya lampu rumah-rumah.

Setelah beberapa menit yang berat dan penuh keringat, Kiai Dullah melepaskan kaki Ibu. Dia memuntahkan gumpalan darah merah pekat hampir mendekati hitam ke dalam baskom. Darah itu bergelembung dan membentuk gumpalangumpalan kecil yang menguarkan bau amis. Saat Ibu melepaskan lelah, Kiai Dullah segera berkumur air kelapa yang telah terkupas dan dilubangi.

“Tinggal menunggu penyembuhan,” Kiai Dullah berkata lirih sambil memperbaiki duduk persis di samping kaki Ibu yang masih kaku dan menjulur begitu saja tanpa tenaga.

“Tolong perbanyak makan dan istirahat. Bekas luka ini lumuri parutan mentimun.”

Kami menunduk, mengiyakan perkataan Kiai Dullah. Meski tak begitu paham apa yang dia maksudkan, bagi kami kesembuhan Ibu yang utama. Jadi tak perlu bertanya tujuan dan fungsi resep itu. Kami pasrah dan melaksanakan sebaik-baiknya.

***

Konon, ular yang telah menggigit manusia tak pernah bisa hidup bahagia. Ia akan menangis setiap hari. Bahkan empat puluh hari sebelum ia benar-benar menggigit mangsa.

Advertisements