Cerpen Orin Andariska (Singgalang, 21 Juli 2019)

Tuhan, Maaf Ramadhan Ini Aku Sibuk ilustrasi Singgalangw.jpg
Tuhan, Maaf Ramadhan Ini Aku Sibuk ilustrasi Singgalang

RAMADHAN ini tak ubahnya seperti Ramadhan sebelumnya, tidak ada yang berubah. Aktifitas yang kulakukan sama saja. Aku lebih dihantui oleh tugas-tugas perkuliahanku yang setiap hari menjamur. Meskipun udah kucicil satu persatu, tetap saja ia menumpuk. Tak banyak yang kula kukan dibulan yang suci ini. Seperti yang kukatakan, aku hanya bertemankan tugas-tugasku yang rata-rata deadline semua.

Hingga tak kurasakan nikmatnya salat Tarawih di tahun ini. Memang miris sekali, ketika semua orang berlomba-lomba meningkatkan ibadah mereka, aku malah sebaliknya.

Bukan tak ingin seperti mereka, tapi waktuku yang telah tersita olehnya. Ahhh… memang benar kata orang-orang, kalau semakin bertambah semester semakin bertambah pula kesibukan yang akan kita lakukan. Contohnya seperti aku.

Ketika teman-temanku dihari pertama puasa berkumpul bersama keluarga mereka, aku malah tetap berdiam diri di kota di mana aku kuliah. Rasanya ingin pulang juga seperti mereka, tapi apalah daya keadaan yang tidak memungkinkan untukku.

Tidak hanya itu perkuliahan yang akan selesai H1 lebaran membuatku tambah down. Tak terbayang olehku lagi-lagi harus malam takbiran di jalan yang pastinya akan macet di mana-mana.

Aku lebih suka di rumah, berkumpul bersama keluarga karena suatu hari nanti aku percaya bahwa aku tidak akan bisa lagi bersama-sama dengan mereka. Rutinitas yang menun tutku untuk demikian.

Satu sisi aku beranggapan hidup itu teramat kejam karena ia merenggut kebahagiaanku, disisi lain aku menganggap hidup itu adalah perjuangan untuk menyongsong hari esok.

“Nggak pulang, Ca?” Tiba-tiba Anisa muncul di balik pintu kamarku.

“Sepertinya nggak deh?” jawabku dengan wajah murung.

“Lho kok gitu, Ca?”

“Iya, tugasku antri buat kukerjakan, lagian jika aku pulang, aku nggak bakalan bisa selesaikan semuanya. Ini banyak banget lho, Sa?”

“Ya ampun, lo itu bener-bener ya, Ca. Demi tugas lo rela nggak pulang. Besok itu puasa pertama, Ca, P-E-R-T-A-M-A,” balas Anisa dengan penuh penekanan.

“Memang napa, Sa, biasa aja kali?”