Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 21 Juli 2019)

Sebatang Mawar ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Sebatang Mawar ilustrasi Orta/Padang Ekspres

SEUMUR hidup ia tidak pernah membayangkan akan punya sebatang mawar yang benar-benar miliknya. Namun, satu kali, anak lelakinya datang membawa pot mungil berisi sebatang mawar tengah berkembang dan berkata, “Ini untuk Mama.”

Ia meletakkan mawar itu di teras. Menyiramnya setiap pagi dan tak henti-henti mengagumi kembang merahnya. Saat sarapan bersama sebelum mobil jemputan sekolah datang, ia berkata kepada anak lelakinya, “Bagaimana bisa kau punya ide membeli satu pot mawar?”

“Karena Mama tak punya sebatang bunga,” kata anak lelakinya.

“Aku tidak yakin bisa merawat tanaman,” tukasnya menyembunyikan senyum geli, sebab betapa ia tak punya waktu untuk mengurusi bunga, “tapi aku pasti bisa melindungi sebatang mawar.” Ia berjanji kepada anak lelakinya.

Akan tetapi, setelah beberapa hari di teras, mawar itu layu. Daunnya kering dan rontok. Kelopak-kelopak bunganya berjatuhan hingga menyisakan tampuk yang menghitam. Rupanya, penjual tanaman telah menipu anak lelakinya. Bunga itu dipastikan baru dipotong dari rumpunnya, lalu ditanam di dalam pot, dan karenanya daun-daun dan bunganya hanya mampu bertahan beberapa hari saja. Bagaimana seorang pedagang bunga dapat melakukan hal seperti itu kepada anak kecil yang polos?

Pot berisi mawar yang mengering itu ia pindahkan ke sudut halaman. Di dekat serumpun bambu kuning mini yang ditinggalkan pemilik rumah sebelumnya. Bagaimanapun mawar itu sebuah hadiah yang tak dapat ia buang begitu saja. Terlebih dari anak lelakinya. Hadiah pertama di luar hari ulang tahun. Hadiah yang sekarang dipandanginya lekat-lekat seakan ia tengah menatap dirinya.

***

Tak disangka-sangka, satu hari, ia menemukan tunas pada mawar di dalam pot yang nyaris ia lupakan itu. Tunas yang berwarna cokelat kemerahan dan tampak segar. Sebelumnya, ia tidak tahu kalau batang mawar bisa tumbuh begitu saja bila sering terkena air hujan. Ia sama sekali tidak memikirkannya.

“Mawarnya tidak mati,” ia berkata kepada anak lelakinya.

Mereka duduk berdekatan, memperhatikan bayi mawar itu.

“Duri-durinya masih lembut,” timpal anak lelakinya yang tampak terpukau.

Advertisements