Cerpen Osella (Fajar, 21 Juli 2019)

Resep Ajaib Dea ilustrasi Fajarw.jpg
Resep Ajaib Dea ilustrasi Fajar

Namaku Tiani Rizki Dewi. Ada yang memanggilku Tia, Kiki, Dewi, dan Ani. Aku lebih suka dipanggil Tia. Tetapi kakakku memanggilku Tigo atau membaliknya menambahkan huruf ‘k’ menjadi Gotik. Kadang-kadang dia memanggilku Rizik. Huruf ‘k’ dari nama tengahku yang diletakkan di belakang. Dia sengaja mengejekku.

Kakakku itu selalu membuatku marah. Menyebalkan.

Kalian tahu siapa itu Gotik? Itu perempuan muda yang pernah muncul di TV. Gotik itu dipilih menjadi duta Pancasila setelah menghina Pancasila. Kakakku juga sering menghinaku. Mungkin itu yang membuatnya diangkat menjadi mandor di rumah ini.

Aku membenci kakakku.

Mentari menyapa dusun kecil kami. Aku sudah mandi setelah kakakku membangunkanku dengan cara mencubit lenganku.

“Jangan duduk di situ!” kata kakakku melangkah dari kamarnya bersama wangi yang menusuk hidung.

“Memangnya kenapa?” tanyaku melotot.

Brakh!

“Oh!”

“Aku bilang jangan duduk di situ!”

Kursi kayu yang baru saja aku duduki ternyata patah kakinya. Aku terjerembab ke lantai. Pantat dan punggungku sakit. Untung kepalaku masih selamat. Aku berusaha tidak menangis.

“Kakak kejam!”

“Oh, aku lupa memindahkan kursi itu!” ujar ibuku yang muncul dari ruang tamu. Ibu membantuku berdiri, sementara kakakku memindahkan kursi itu ke dekat kamarnya.

“Hehee…!” Kakakku tertawa.

“Ayah!”

Aku memanggil ayahku. Aku selalu merindukan ayah saat terjatuh. Aku merindukan ayah saat sedih. Ayah selalu membelaku. Aku ingin ayah menghiburku. Menguatkanku.

“Ayaah!!”

“Ayahmu ke kebun,” lanjut ibu. “Ada masalah di kebun.”

Advertisements