Cerpen Anju Lubis (Analisa, 21 Juli 2019)

Poltak ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Poltak ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Poltak, begitu orang-orang memanggilnya kendati ia tak pernah memperkenalkan diri dengan nama itu. Apalah daya, dia juga tak menahu apa namanya. Dia juga tak ingat dengan ke dua orang tuanya yang barangkali memberi nama; atau oppung-nya. Atau sanak saudara mana pun yang boleh jadi menamakannya. Satu hal yang ia tahu pasti hanya kata-kata orangtuanya yaitu sebuah nama memiliki makna tersendiri. Sayang yang dia ingat cuma nama pemberian orang-orang tak berwajah di ingatannya. Poltak. Entah apa maknanya.

Tatkala ada yang meneriakkan nama itu, dia langsung menoleh. Seolah dia yang dipanggil atau dia percaya tak mungkin ada orang bernama Poltak selain dirinya. Telinganya tegang berdiri, matanya mencari-cari asal suara. Mirip bocah lima tahun yang dipanggil ibunya langsung terperanjat sebab mengenali suara ibu. Bedanya Poltak tak perduli suara siapa yang berteriak. Ibu? Bapak? Semua sama saja di telinganya asalkan yang diteriakkan adalah nama yang dia percayai.

Umur Poltak kira-kira empat puluhan. Pastinya, tidak ada yang menahu. Keriput di wajahnya yang kusam, kumis dan janggut acak-acakan, tubuh yang makin mengering dan otot yang lumer oleh waktu. Cuma itu yang jadi petunjuk.

Kalau ada yang bertanya padanya, berapa umurmu? Poltak membisu seketika. Dia mengerti umur adalah lamanya seseorang hidup, namun bingung umur itu perihal tahun, bulan, hari atau mungkin jam. Dia hidup telah cukup lama. Lama sekali, pikirnya. Tak mungkinlah menghitung berapa lama aku hidup. Tak ada gunanya.

Jika ditanya di mana dia tinggal? Poltak kembali dibanjiri pertanyaan-pertanyaan balasan yang aneh. Dia boleh tidur di mana saja dia mau, boleh juga makan di mana saja.

Dia bisa tidur di depan ruko penjual perkakas bangunan. Atau di teras showroom yang ditutupi kanopi yang menjorok sampai ke jalan. Kalau lapar atau hendak buang air, biasanya dia pergi ke food court di pusat kompleks. Atau di tempat makan mana saja yang tertangkap matanya.

Baginya tempat tinggal berarti tempat di mana kau makan, tidur, dan berak. Lantas ada begitu banyak tempat tinggal Poltak. Yang mana jadi jawabannya? Ah, sepertinya orang-orang memang suka mempertanyakan sesuatu tak berguna seperti itu. Dasar gila, cibirnya dalam hati.

Pekerjaan baru Poltak adalah pekerjaan penting. Dia menemukannya waktu lesehan di teras toko elektronik yang tutup. Waktu itu hujan lebat, angin berkecamuk dari berbagai arah. Sesekali ada titik-titik air terhempas sampai ke wajahnya, membuatnya mengerang bak kucing liar.