Cerpen Yuditeha (Solo Pos, 21 Juli 2019)

Perempuan Bernama Pita dan Sebuah Taman ilustrasi Solo Posw.jpg
Perempuan Bernama Pita dan Sebuah Taman ilustrasi Solo Pos

“Bila kamu bisa melewati kesepian tanpa derita, itu artinya kamu telah berhasil menjadi manusia bebas, dan ciri utama manusia bebas adalah ketika kamu berani mengikhlaskan jiwamu kepada kematian.” Dulu aku tidak paham dengan pernyataan itu. Jikapun aku memaksa mengartikannya, yang kutangkap adalah bunuh diri.

Dan jika aku tidak bertemu dengan Pita, sampai sekarang pun mungkin aku tidak benar-benar tahu makna pernyataan yang disampaikan kekasihku itu. Aku masih ingat, kata-kata itu diucapkan kekasihku menjelang kami akan berpisah selamanya. Lebih tepatnya kami akan dipisahkan oleh kematian. Seingatku dia pergi dengan tenang, bahkan pada saat dia menyampaikan pernyataannya itu kepadaku diiringi dengan senyum manis di bibirnya. Saat itu aku melihat wajahnya pucat, tapi menurutku kepucatan itu tak mampu menghalangi pancaran kecantikannya. Pada saat itu aku seperti baru disadarkan bahwa paras kekasihku ternyata teramat cantik. Sungguh memesona hati. Sayang perpisahan itu begitu cepat. Belum lama kami menyatu dalam jalinan kemesraan kami sudah harus berpisah selama-lamanya.

Selagi bersamanya dulu, segala harap dan angan telah terpegang dengan baik, hingga waktu itu aku bisa merasakan beraneka warna hidup dengan penuh suka cita dan keantusiasan yang pikirku tak pernah ada duanya. Aku merasa tak ada waktu yang terjeda bagi hal lain selain dirinya. Apa pun yang kulakukan selalu terpusat kepadanya. Mungkin benar apa yang sering dibilang banyak orang, jika hati sedang kasmaran, bumi ini seakan hanya berisikan sang pujaannya. Tidak ada rasa cemas dan sedih di hatiku, segalanya terpancar dengan cerah dari perilakuku. Bahkan kami telah merancang warna macam apa yang akan kami kehendaki di kehidupan kami nanti. Jika sudah begitu, tak ada sedikit pun ketakutan untuk menghadapi misteri hidup.

Setelah perpisahan itu, kurasakan ragaku lemas dan  malas bergerak, jiwaku ambruk, dan hasratku terhadap apa pun seperti menghilang. Aku yang kupikir masih bernapas tapi terwujud seperti jasad yang bisu. Tidak ada gairah di relung jiwaku. Rasanya aku ingin menyusulnya di alam sana. Terlebih jika mengingat pernyataan dari kekasihku yang waktu itu belum benar-benar kupahami artinya. Dan pada saat aku mencoba mengartikannya, aku menduga kalau sesungguhnya dia ingin aku mengikutinya.

Advertisements