Cerpen Ranang Aji SP (Kompas, 21 Juli 2019)

Mitoni Terakhir ilustrasi Wahyu Friandana - Kompasw
Mitoni Terakhir ilustrasi Wahyu Friandana/Kompas

Di halaman belakang rumah, peninggalan suamiku, aku duduk sendiri, memandang pohon randu alas yang meranggas. Kukira, waktuku sudah segera akan tiba. Aku tidak tahu kapan itu terjadi, tapi, cepat atau lambat, malaikat maut itu pasti akan segera datang menjemputku. Menyusul para leluhurku untuk berkumpul bersama.

Kematian adalah kepastian buat siapa saja, bukan? Apalagi perempuan seusiaku saat ini. Sebelum ajalku, aku hanya ingin merasakan, menyaksikan dan memberikan berkah pada darah dagingku yang terlahir di bumi ini, agar tumbuh sehat sebagai jiwa terberkati. Seperti para leluhurku juga memberkatiku di masa lalu.

Dari rahimku ini, telah lahir tujuh anak perempuan—dan setiap anak telah melahirkan anak-anaknya, para cucuku yang lucu. Kecuali anak bungsuku, Setyaningsih, ia baru dua tahun menikah dan belum sempat mendapatkan anak. Semua anak dan cucuku mendapat restu dan berkah dari orangtuanya dengan cara yang sama.

Eka Yuningsih, anak pertamaku, ketika mengandung anak pertamanya, semua menyambutnya dengan bahagia. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan, seperti adat Jawa yang terberkati, kami, ayah dan ibunya menggelar acara mitoni. Demikian pula dengan anak-anakku yang lain.

Dalam setiap hajatan itu, semua kerabat datang, semua tetangga hadir—juga anak-anak sekitar yang ceria menonton prosesinya. Mereka tertawa sembari berdesak-desakan di halaman. Terkadang mereka ikut melihat bagaimana kami mengguyur tubuh anak dan cucuku yang masih di dalam rahimnya, dengan air bunga.

Tentu saja aku tahu—anak-anak itu menginginkan dawet ayu, dan juga semua makanan yang kami sediakan untuk hajatan ini. Aku membiarkan mereka ribut, gaduh di antara suara gending Jawa yang mengiringi. Terkadang, aku berpura-pura marah, meminta mereka agar diam dan menunggu di latar. Sambil kutanya, sudah bawa kereweng [1] belum.

“Sudaah,” jawab mereka serempak.

Namun, semua upayaku agar mereka diam, sia-sia belaka. Mereka, para makhluk kecil nan berisik itu, selalu tak tertaklukkan oleh siapa saja, kecuali oleh dawet ayu. Dan perutnya yang seluas langit dan sedalam lautan, tak juga kunjung puas, meskipun bermangkok-mangkok sudah disiramkan ke dalam perutnya, dan juga oleh jajanan yang mereka inginkan. Ah, dasar anak-anak.